TribunPontianak/
Home »

Video

VIDEO DRONE

Albertus Tjiu: Konservasi Penyu Tanggung Jawab Bersama

“Teman-teman dari Pokmaswas Kambau Borneo ini menjadi cikal bakal gerakan konservasi yang dilakukan oleh masyarakat,” ujarnya.

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Destriadi Yunas Jumasani

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Berawal dari pondok bekas pekerja kayu ilegal, pada 2008 WWF mulai merintis sebuah camp yang sudah ditinggali tersebut.

Tujuan pembangunan camp ini sendiri diperuntukan bagi petugas-petugas lapangan yang melakukan monitoring harian terhadap penyu yang ada di Paloh.

“Teman-teman dari Pokmaswas Kambau Borneo ini menjadi cikal bakal gerakan konservasi yang dilakukan oleh masyarakat,” ujarnya.

(Baca: Penasaran Cara Penyu Bertelur, Yuk Intip Disini! )

Albertus Tjiu mengatakan konservasi penyu di Paloh ini bentuk dari konservasi yang berbasiskan masyarakat. Sementara saat ini yang menetap di Camp WWF ada tiga orang yang mana ketiganya menjadi pilar konservasi penyu di Paloh.

“Selain mereka kadang-kadang ada juga volunteers yang membantu dan teman-teman dari Pokmaswas yang datang secara bergantian untuk melakukan monitoring harian,” tuturnya.

(Baca: Bentuk Dukungan BPSPL Pontianak untuk Konservasi Penyu, Tonton Videonya )

Berbicara tentang pantai peneluran penyu terpanjang di Indonesia yaitu sepanjang 63 Km dengan hotspot area peneluran penyu sepanjang 19,3 Km,0 tentunya jika hanya tiga petugas dalam satu malam yang melakukan monitoring itu jauh dari kata cukup.

“Makanya mereka ini perlu perhatian dari banyak pihak terutama pemerintah, penegak hukum, kita berharap instansi terkait dapat mendukung program kelestarian penyu ini,” ungkapnya.

Ia menambahkan, sejatinya ketika berbicara konservasi spesies dilindungi tugas tersebut tidak hanya dipundak masyarakat sendiri tapi juga harus menjadi tanggung jawab pemerintah. WWF mencoba mendorong pemerintah serta penegak hukum dalam konteks menjaga khasanah kekayaan alam Indonesia.

“Spesies dilindungi seperti penyu kalau tidak dibantu bersama-sama tidak mungkin kita menjaga penyu ini sendirian,"ujarnya.

Artinya pelibatan para pihak penting sekali mulai dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan, BKSDA sebagai manajemen otoriti untuk menjaga spesies dilindungi serta masyarakat lokal yang tinggal di sini maka mereka adalah ujung tombak.

"Sementara WWF bisa membantu menjaga memfasilitasi untuk beberapa hal, namun dengan keterbatasan itu kita mencoba membuat situasi ini menjadi lebih baik di masa depan,” pungkasnya.

Penulis: Destriadi Yunas Jumasani
Editor: Dhita Mutiasari
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help