TribunPontianak/

Hijrah Kebangsaan

Artikulasinya bukan lagi sekadar perpindahan fisik lewat momen perpindahan dari satu tempat ke tempat lain.

Hijrah Kebangsaan
TRIBUN PONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Ribuan Umat muslim Kota Pontianak berkumpul di halaman Masjid Raya Mujahidin, Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (21/9/2017) pagi. Mereka mengikuti pawai akbar 1 Muharram 1439 H baik berjalan kaki maupun menggunakan mobil hias berkeliling Kota Pontianak. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Hari ini umat muslim memasuki Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1439 Hijriah. Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah tanggal 2 Rabi'ul Awwal tahun ketiga belas dari kenabian, bertepatan dengan 20 Juli 622 M, diabadikan menjadi sistem penanggalan Islam hingga sekarang. Hijrah itu terjadi disebabkan oleh penindasan orang-orang musyrik Quraisy yang luar biasa terhadap Nabi dan para sahabatnya.

Jika kita telisik dari sisi sejarah, peristiwa hijrahnya Rasulullah dan para sahabat itu ternyata bukan sekadar perpindahan spasial atau tempat saja; bukan pula sekadar perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah. Tetapi lebih pada perpindahan dari kekufuran kepada semua hal yang diridoi Allah SWT.

(Baca: Pawai Akbar Umat Muslim di Sanggau Semarak )

Hijrah Rasulullah ini lebih mengandung makna moral dan spiritual. Mereka berhijrah dari syirik kepada tauhid, dari pelecehan dan merendahkan kaum wanita kepada penghormatan derajatnya, dari gelimang dosa menuju limpahan pahala. Hijrah tersebut kemudian menjadi titik balik terwujudnya kejayaan Islam, sekaligus sebagai awal menuju terwujudnya masyarakat yang lebih baik

Ditinjau dari sisi literal hijrah berasal dari kata hajara. Dalam Al-Mu'jam al Wasith dijelaskan bahwa hajara berarti berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Bila kita menggunakan tafsir reformasi, pesan Tahun Baru Hijriah sangatlah gamblang. Artikulasinya bukan lagi sekadar perpindahan fisik lewat momen perpindahan dari satu tempat ke tempat lain.

Perpindahan dari Mekkah ke Madinah itu memberi pelajaran, perspektif dan spirit baru dalam berdakwah. Bahkan semua gerak kehidupan sejatinya menuju ke arah fitrah makna hijrah itu sendiri.

Dalam bahasa yang idiomatik, hijrah dapat dirangkai dalam kerangka minadz dzulumati ilannur, dari kegelapan menuju kondisi yang terang benderang. Sebagai halnya Raden Ajeng Kartini berhijrah; Habis Gelap Terbitlah Terang.

Dalam konteks apa pun, kerangka dan spirit hijrah bisa kita terapkan. Dalam konteks pribadi bisa dipakai sebagai pembingkaian untuk memperbaiki diri. Tentu sebagai elemen terkecil dan sekaligus terpenting dalam sebuah struktur sosial, pribadi yang baik akan melahirkan tata sosial yang baik.

Dalam konteks sosial keagamaan, kita harus bertransformasi dari pribadi yang berhijrah menuju masyarakat yang berhijrah. Transformasi dari hijrah pribadi ke hijrah society ini merupakan dua komponen yang saling terkait. Keduanya tak boleh dipisahkan satu sama lain. Masyarakat yang bertransformasi pada gilirannya akan melahirkan bangsa yang transformatif pula.

Mengutip Sekjen PBNU A Hemly Faishal Zaini (Kompas, 20//9/2017), ini merupakan fase ketiga dalam transformasi hijrah: pribadi, sosial, kebangsaan. Di tengah karut marutnya situasi sosial politik dan kepincangan kehidupan sosial belakangan ini, spirit hijrah itu bisa dijadikan alas untuk memproduksi kebijakan-kebijakan yang transformatif.

Muara pembangunan diarahkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dalam hal ini kebijakan pemimpin harus sepenuhnya bermuara pada sebesar-besarnya kemaslahatan rakyat. Kemaslahatan rakyat adalah tujuan akhir dari segala produk kebijakan yang dihasilkan pemerintah.

Artinya jika kebijakan tidak mendatangkan kemaslahatan bagi rakyat sebagai pemilik kedaulatan, maka ia harus dikaji ulang. Jika memang terbukti tidak mendatangkan kemaslahatan, bahkan justru sebaliknya mendatangkan kemudaratan dan kerusakan, ia harus ditolak. Kebijakan yang demikian ini sejatinya --meminjam istilah Lawrence J Peter (2007) -- polusi birokrasi.

Polusi birokrasi tentu saja harus dihindari dan diminimalisasi semaksimal mungkin. Momentum tahun baru, 1 Muharram 1439 H kali ini sangat tepat kiranya bagi kita untuk merenungkan sekaligus mengimplementasikan makna hijrah sesuai yang diajarkan Nabi Muhammad SAW.

Dan marilah kita berhijrah dimulai dari diri sendiri. Caranya, dengan menumbuhkan kesadaran positif yang kuat setiap kali akan melakukan sesuatu sehingga ketika sesuatu itu tidak bernilai manfaat baik bagi diri pribadi dan umat maka sesuatu itu tidak akan dilaksanakan. (*)

Penulis: Ahmad Suroso
Editor: Jamadin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help