Pertukaran Jurnalis Indonesia Swiss
[BAGIAN 3] Bikin Game Perlindungan Hutan
Andrez menjelaskan bahwa game tersebut bertujuan untuk menumbuhkan kepedulian orang- orang untuk melindungi hutan.
Penulis: Dian Lestari | Editor: Steven Greatness
TRIBUNPONTIANAK,CO.ID - Selain mengumpulkan dan menganalisa data dalam bentuk laporan formil, penerapan teknologi untuk hiburan yang menanamkan nilai-nilai positif, terus dikembangkan oleh Andres Perez-Uribe, dosen di Haute Ecole d'Ingénierie et de Gestion du Canton de Vaud (HEIG-VD) sekaligus peneliti Terra-i. Dia dan rekan-rekannya menciptakan game perlindungan hutan.
Uniknya permainan ini bukan khayalan semata, melainkan berbasiskan data lokasi hutan yang terancam gundul. Para pemain diajak untuk mengetahui bagaimana kondisi nyata kerusakan hutan di lokasi tersebut. Para pemain diajak untuk berupaya melindungi hutan dari para perambah.
Andrez menunjukkan kepada saya dan Cécile bagaimana permainan tersebut. Ketika permainan sudah diunduh di smartphone, akan muncul instruksi dalam beberapa tahap permainan. Pertama, pemain akan diarahkan masuk kepada penjelasan tentang penandaan lokasi deforestasi.
"Data lokasi berdasarkan kondisi nyata di lapangan. Jadi data satelit menunjukkan di kawasan itu telah terjadi penggundulan hutan," jelas Andrez.
Kedua, lokasi deforestasi harus dikonfirmasi oleh pemain. Ketiga, di lokasi tersebut muncul pilihan berapa banyak kekuatan militer yang harus disiapkan untuk melindungi hutan. Andrez memilih tiga tank militer. Tetapi ternyata pilihannya itu keliru. Beberapa detik kemudian muncul lima helikopter milik perambah hutan.
Baku tembak antara tank militer dan helikopter perambah hutan jadi tak seimbang. Militer kalah banyak armada untuk melontarkan peluru ke lima helikopter tersebut.
"Wah saya akan segera kalah. Lihat ini, orang-orang yang akan merusak hutan jumlahnya lebih banyak," kata Andrez.
Beberapa detik kemudian layar smartphone bertuliskan: ANDA KALAH. Andrez tersenyum menyaksikan kekalahannya melawan perambah hutan di dunia virtual. Permainan pun harus diulang lagi.
Andrez menjelaskan bahwa game tersebut bertujuan untuk menumbuhkan kepedulian orang- orang untuk melindungi hutan. Permainan ini bukan semata khayalan, melainkan di lokasi yang ditunjukkan dalam game adalah nyata telah terjadi pembabatan hutan. Sehingga diharapkan para pemain game bisa familiar dengan lokasi-lokasi deforestasi, dan tidak membiarkan semakin meluas.
Andrez menuturkan, game sedang dalam proses pemrograman. Masih ada beberapa tahap lagi untuk menyempurnakan. "Permainan ini baru diuji coba di kalangan terbatas. Kami akan mencari penyandang dana, melakukan diseminasi untuk memasarkan game," ujarnya.
Science for Fun
Andres dan Julien juga menunjukkan kepada saya dan Cécile, dua alat percobaan lain yang mereka pernah buat dengan konsep "Science for Fun" atau Sains untuk Hiburan. Sembari jarinya mengarah ke satu meja yang di atasnya terdapat satu vas bunga, Andres mengatakan bahwa kedua benda tersebut sebenarnya bukan pajangan semata. Sebaliknya adalah properti khusus yang dirancang untuk proses pembuatan film.
"Vas dipasangi sensor, untuk mendeteksi orang yang masuk lewat pintu dekat meja. Ketika orang datang dari balik pintu, otomatis vas akan bergerak sendiri. Tentu saja orang-orang akan terkejut, hahaha...," kata Andres.
Sayangnya kami tak bisa melihat langsung bagaimana vas itu bergerak, karena sensornya sedang di-setting non-aktif.
Tapi Andres dan Julien mengajak kami menyaksikan bagaimana cara kerja "tong sampah ajaib" buatan mereka. Setelah menghubungkan beberapa kabel di dalam dan tepi tong sampah, Andres memegangi tiga botol plastik bekas minuman. Satu botol dimasukkan, lalu terdengar bunyi seperti bom dijatuhkan. Suiiiiiiiitttt.....bum.
Botol selanjutnya dimasukkan, terdengar lagi bunyi yang sama. "Inilah science for fun. Tong sampah berbunyi," kata Andres lalu tertawa.
Kami bertiga juga tertawa. Terbayang oleh saya bahwa setiap orang yang membuang sampah di situ, akan terhibur.
Sangat menyenangkan bagi saya mendapat sambutan hangat dan diberi pengetahuan baru tentang pemanfaatan teknologi untuk melindungi hutan, serta menikmati hiburan dari "tong sampah bersuara". Setelah berpamitan, saya dan Cécile dengan wajah tersenyum meninggalkan kampus HEIG-VD.