Sertijab Sispala Repatones di Alam Terbuka
Tidak hanya itu, kotoran dan bau khas orangutan sempat kami lihat, namun kami tidak menjumpai orangutan yang di maksud.
Penulis: Stefanus Akim | Editor: Steven Greatness
Citizen Reporter
Petrus Kanisius 'Pit"
Pengurus Yayasan Palung
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Berjumpa kelempiau, menengok kepak sayap enggang dan indahnya pemandangan Kampung Bali dari puncak batu bulan saat sertijab sispala repatones di Lubuk Baji
Dua sampai lima kali suara kelempiau semakin mendekati kami dan akhirnya kami melihat secara langsung dua kelempau/Hilobates muleri (induk bersama anaknya). Tidak hanya itu, kepak sayap enggang/buceros vigil juga begitu jelas diperdengarkan kepada kami.
Saya bersama rekan Bedu dari Yayasan Palung dan Rudi dari FPTI Ketapang berkesempatan kembali menengok Lubuk Baji di kawasan penyangga Taman Nasional Gunung Palung, saat mendampingi Sertijab (serah terima jabatan) dari pengurus lama meletakan jabatan kepada pengurus baru Sispala Repatones, SMA PL. St. Yohanes, Ketapang, Sabtu-Minggu, (tepatnya 12-13 September 2014), kemarin.
Kami tiba di Dusun Segua, Desa Pampang Harapan, Kecamatan Sukadana, sekitar pukul 10.00 wib. Setiba di Segua, 20 Sispala Repatones, di dampingi Pembina Agustinus Bunadi menyempatkan diri untuk menanam 25 bibit trembesi di dusun Segua. Setelah menanam pohon, kami meneruskan perjalanan menuju Lubuk Baji.
Dalam perjalanan, sembari berjalan kami sempatkan untuk mengamati setiap jalur yang kami lewati. Tidak hanya suara kelempiau dan enggang, tetapi suara burung, gemuruh, gemericik air terjun menjadi pesona alam yang tidak bisa di sangkal berpadu dengan rapatnya pepohonan beraneka ragam jenis seperti ulin, bengkirai dan beberapa kayu kapur membaur menjadi satu di sepanjang jalur menuju Camp Lubuk Baji.
Saat kami beristirahat sejenak,Hawa dingin begitu terasa, kami juga sempat merasakan sejuknya air terjun, begitu segar, itulah kira-kira nikmatnya air gunung saat di masukan ke dalam botol, sungguh serupa dengan es rasanya. Kami melihat tumbuhan bangkal atau Nauclea rubiase spp juga kami jumpai di pinggir sungai tepat di antara bebatuan di jalur perjalanan yang dinamai Lubuk Bengkik. Bangkal merupakan salah satu tumbuhan yang buahnya menjadi santapan favorit burung-burung sungai.
Tidak hanya itu, kotoran dan bau khas orangutan sempat kami lihat, namun kami tidak menjumpai orangutan yang di maksud. Rombongan kami juga sempat melihat pohon Benuang (Ocmeles sumatrana) yang terdapat sarang lebah madu. Terlihat, ada bekas sarang lebah yang gugur di samping pohon benuang tersebut. Menurut perkiraan kami, sarang lebah tersebut belum lama diambil oleh petani madu. Di sekitar pohon benuang tersebut juga terlihat kamera trap (kamera tersembunyi) untuk mengabadikan satwa yang lewat di jalur tersebut.
Menurut Edward Tang, salah seorang konsultan ekologi dan pendidikan lingkungan dari Yayasan Palung mengatakan; seperti diketahui, benuang merupakan salah satu pohon yang tumbuh di daerah pegunungan, berdiameter 60-160 cm bahkan hingga dua meter, tingginya bisa mencapai 60 meter. Pohon benuang merupakan tumbuhan pohon favorit lebah, selain pohon kompas (Kompasiaexcelsa) yang memproduksi madu terbaik alami.
Setibanya di Camp Lubuk Baji, ± pukul 15.00 wib, kami menyempatkan untuk bersih-bersih dimana camp tersebut tempat kami menginap. Beberapa diantara kami mempersiapkan makan malam dengan memasak nasi dan sayur. Ada yang mempersiapkan tungku dan mencari ranting kayu, beberapa diantara kami yang membersihkan alat masak dan piring mangkok di camp. Setelah masak, kurang lebih pukul 18.00 wib, kami pun santap bersama.
Pada malam hari, sekitar pukul 19.00 wib, kami shering, diskusi bersama, bercerita tentang temuan selama perjalanan hingga sampai di Camp. Temuan-temuan diceritakan kembali oleh ke tiga kelompok. Bedu, Agustinus Bunadi dan Petrus Kanisius mendampingi diskusi tersebut.
Setelah diskusi, peserta sertijap merencanakan untuk melihat mata hari terbitdan melihat wilayah KKU, terlebih khusus Kampung Bali yang terlihat dari puncak Batu Bulan.
Pukul 04.00 wib, kami berangkat dari Camp Lubuk Baji, menuju puncak Batu Bulan, yang memiliki ketinggian ± 60 meter. Selama setengah jam perjalanan, kami tiba di Batu Bulan.
Sebelum jam 05.30 wib pagi menyapa dengan senyum mentari mulai bersinar terlihat walau bercampur kabut. Beberapa diantara peserta menyatakan kekagumannya tentang Kampung Bali yang indah terlihat dengan hamparan sawah-sawah khas masyarakat Bali seperti adanya banyak janur dan tempat sesajian di sawah. Rudi, dari FPTI Ketapang menyempatkan diri untuk menjajal kemampuannya dengan refling (menuruni tebing) Batu Bulan.
Setelah puas dengan pemandangan di Batu Bulan, kami kembali ke Camp Lubuk Baji untuk memasak sarapan pagi. Setelah sarapan pagi selesai, Sispala Repatones dengan panitia dan pendampingnya melakukan serah terima jabatan dari ketua Lama, periode 2013-2014 Kevin ke ketua baru, Virginia, periode 2014-2015.
Sebelum pulang dari Lubuk Baji, kami menyempatkan untuk bersih-bersih sampah sebelum pulang. Di Kampung Bali, Desa Sedahan Jaya, kami menyempatkan untuk melihat Pura Bali. Setengah jam berkunjung di Pura Bali, kami melanjutkan pulang menuju Katapang dengan mengunakan mobil Satpol PP Ketapang.