• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 29 Juli 2014
Tribun Pontianak

Spilis Meningkat di Jepang

Sabtu, 12 April 2014 09:11 WIB

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, TOKYO -  Lembaga penyakit menular (National Institute of Infectious Diseases) Tokyo, Jumat (11/4/2014), menyebutkan tahun 2013 penyakit spilis di Jepang melebihi angka 1000 orang. Kasus sipilis tahun 2013 ternyata meningkat 40 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini sejak penelitian dan hasil statistik bidang ini dilakukan beberapa tahun lalu

Pada tahun 2010 jumlahnya baru tercatat 621 orang. Jumlah ini pun terus meningkat dari tiga tahun sebelumnya. Dari yang terkena sipilis tahun lalu, 989 orang adalah lelaki dengan umumnya berusia antara 25 hingga 39 tahun.

Lembaga ini mengumpulkan data penyakit menular sipilis sejak tahun 2000. Jumlah tersebut ternyata terus meningkat tak pernah menurun dan menurut data lembaga tersebut, sebagai hasil kontak hubungan seks justru antara lelaki. Bukan antara wanita dan lelaki.

"Banyak pasien melakukan kontak seks dan itu justru antara sesama selaki," papar Makoto Onishi, Kepala Bagian Pertama Divisi Penelitian lembaga tersebut.

Dengan demikian kemungkinan besar justru penyakit sipilis banyak masuk di komunitas antar seks lelaki. Onishi mengatakan ketidaknormalan pada warna kulit dan komposisinya jangan pernah diabaikan.

"Untuk prevensi sebaiknya secara dini periksakan ke dokter dan melakukan test di rumah sakit segera tanpa malu-malu," tambahnya.

Sipilis adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh bakteri spiroset Treponema pallidum sub-spesies pallidum. Rute utama penularannya melalui kontak seksual. Infeksi ini juga dapat ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan atau saat kelahiran, yang menyebabkan terjadinya sifilis kongenital. Penyakit lain yang diderita manusia yang disebabkan oleh Treponema pallidum termasuk yaws (subspesies pertenue), pinta (sub-spesies carateum), dan bejel (sub-spesies endemicum).

Tanda dan gejala sipilis bervariasi bergantung pada fase mana penyakit tersebut muncul (primer, sekunder, laten, dan tersier). Fase primer secara umum ditandai dengan munculnya chancre tunggal (ulserasi keras, tidak menimbulkan rasa sakit, tidak gatal di kulit), sipilis sekunder ditandai dengan ruam yang menyebar yang seringkali muncul di telapak tangan dan tumit kaki, sipilis laten biasanya tidak memiliki atau hanya menunjukkan sedikit gejala, dan sipilis tersier dengan gejala gumma, neurologis, atau jantung. Namun, penyakit ini telah dikenal sebagai "peniru ulung" karena kemunculannya ditandai dengan gejala yang tidak sama.

Diagnosis biasanya dilakukan melalui tes darah; namun, bakteri juga dapat dilihat melalui mikroskop. Sifilis dapat diobati secara efektif dengan antibiotik, khususnya dengan suntikan penisilin G (yang disuntikkan untuk neurosifilis), ataupun ceftriakson, dan bagi pasien yang memiliki alergi berat terhadap penisilin, doksisiklin atau azitromisin dapat diberikan secara oral atau diminum.

Sipilis diyakini telah menginfeksi 12 juta orang di seluruh dunia pada tahun 1999, dengan lebih dari 90 persen kasus terjadi di negara berkembang. Setelah jumlah kasus menurun secara dramatis sejak ketersediaan penicilin di seluruh dunia pada 1940an, angka infeksi kembali meningkat sejak pergantian milenium di banyak negara, terkadang muncul bersamaan dengan human immunodeficiency virus (HIV). Angka ini disebabkan sebagian oleh praktik seks yang tidak aman di antara laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki, seks bebas dan angka prostitusi tinggi, serta penurunan penggunaan proteksi pelindung.

 
Editor: Jamadin
Sumber: Tribunnews
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas