Bijak Rayakan Kelulusan

Padahal setelah lulus masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan itu membutuhkan pertimbangan yang cukup matang.

Bijak Rayakan Kelulusan
TRIBUNNEWS.COM
Ilustrasi perayaan kelulusan UN

Perilaku ini seolah-olah jamak dilakukan untuk merayakan kelulusan. Setelah tiga tahun berkutat dengan mata pelajaran dan segala rutinitas, kelulusan dinilai sebagai klimaks dari segalanya. Padahal setelah lulus masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dan itu membutuhkan pertimbangan yang cukup matang. Setelah lulus, memilih perguruan tinggi yang cocok dan tepat temtu saja bukan perkara gampang. Sementara bagi yang tak melanjutkan ke perguruan tinggi, memilih pekerjaan atau aktivitas lain juga buth pertimbangan matang.

Merayakan kelulusan tentu saja sah-sah saja dilakukan. Namun, tentu saja dengan cara yang tepat dan bijak. Merayakan kelulusan tak melulu harus dengan cara mencoret-coret seragam atau bahkan dengan kebut-kebutan di jalan raya yang menganggu pengguna jalan lain. Ada cara-cara kreatif yang bisa ditempuh untuk merayakan kelulusan. Bisa saja merayakan kelulusan dengan menyumbangkan seragam atau buku-buku yang tak dipakai lagi ke lembaga-lembaga sosial dan akhirnya diteruskan kepada mereka yang membutuhkan.

Apalagi merayakan kelulusan dengan kebut-kebutan tentu saja sangat berisiko keselamatan tak hanya bagi pelajar namun juga bagi pengendara lain.

Tahun lalu konvoi siswa SMK yang merayakan kelulusan UN di Kabupaten Temanggung, Jawa Barat, bahkan memakan korban jiwa. Sutri Usud Nur Arif (18), siswa SMK Swadaya tewas ditempat usai kecelakaan di Jalan Raya Temanggung-Bulu-Parakan. Kita tentu saja tak ingin kejadian serupa meninpa anak-anak kita di Kalimantan Barat yang baru saja lulus ujian nasional dan akan menatap masa depan lebih baik.

Larangan untuk tidak melakukan konvoi sudah dikeluarkan oleh Kabid Humas Polda Kalbar AKBP Mukson Munandar jauh-jauh hari sebelumnya. Ia mengimbau agar seluruh siswa yang menerima hasil kelulusan tidak menggelar konvoi kendaraan. Sebab, hal ini bisa menimbulkan kemacetan arus lalu lalu lintas yang mengganggu kenyamanan masyarakat selain itu bisa menimbulkan kecelakaan. Pihak kepolisian bahkan tak segan-segan membubarkan konvoi dan akan memberikan surat tindak pelanggaran (Tilang) bagi pelanggar lalu lintas.

Para pelajar hendaknya juga mematuhi imbauan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, M Nuh, yang meminta agar para pelajar SMA yang berhasil lulus UJian Nasional (UN) tidak terlalu berlebihan dalam merayakan kelulusan. Nuh juga ingin para pelajar tidak corat-coret seragam sekolahnya.

Dalam konprensi pers di Gedung Kemendikbud, kemarin, Nuh meminta agar para siswa yang lulus tidak over acting, "Kalau punya baju, jangan dicat-cat. Lebih bagus dikasih ke tetangga."

Nuh juga berpesan bagi para siswa yang belum berhasil pada UN kali ini agar terus belajar. Sebab, masih ada kesempatan kedua agar para siswa tersebut bisa lulus, yaitu ikut ujian Paket C pada Juli mendatang.

Tahun ini sebanyak 99,48 persen siswa di Indonesia dinyatakan lulus ujian. Sebanyak 8.250 siswa atau 0,52 persen dinyatakan tidak lulus. Data Kementerian, nilai pelajaran matematika pelajar SMA dan SMK yang mengikuti UN lebih bagus daripada nilai Bahasa Indonesia. Sebanyak 19,97 persen siswa mendapatkan nilai 7 dan hanya 2,11 persen yang bisa menjawab semua pertanyaan dengan betul pelajaran Bahasa Indonesia pada UN tahun ini. Berbeda dengan mata pelajaran matematika yang berhasil mencapai 7,7 persen siswa yang bisa menjawab betul semua pelajaran hitung-hitungan tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Barat Alexius Akim mengatakan pengumuman kelulusan ujian nasional akan dilaksanakan pada Jumat (24/5). Ia memastikan tidak ada pengunduran waktu pengumuman kelulusan untuk 14 kabupaten/kota di Kalbar.

Halaman
12
Penulis: Stefanus Akim
Editor: Stefanus Akim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved