Djamilo Ketua DAD Delta Pawan

Pemberian gelar ini dengan dasar dihaum pakat diparas tujuh (secara demokrasi) terhadap orang tua dan pengurus dewan adat

Tayang:
Penulis: Ali Anshori |
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KETAPANG - Djamilo, resmi dikukuhkan menjadi ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Delta Pawan, Jumat (5/10/2012) sore, dalam acara rapat kerja yang dilaksanakan di wisma Hulu Sungai di Jl GM Saunan Ketapang. Sementara, Gabriel Saoeharto menjabat sebagai sekretaris.

Dalam acara tersebut juga diadakan sukuran sekaligus pasalin pasibur atau pemberian gelar adat dayak kepada tokoh masyarakat tokoh adat dan aparat pemerintahan yang ada di wilayah Kecamatan Delta Pawan.

"Pemberian gelar ini dengan dasar dihaum pakat diparas tujuh (secara demokrasi) terhadap orang tua dan pengurus dewan adat, juga kepada tokoh masyarakat dan aparat pemerintahan, ini juga sebagai penghargaan kepada mereka," kata ketua panitia pelaksanaYulius D Fiator.

Beberapa tokoh adat dan aparat pemerintahan yang mendapatkan gelar tersebut diantaranya, Ketua pengadilan negeri Ketapang, Marolop Simamora, Danramil Delta Pawa Kapten Inf Satiman, Kapolsek Delta Pawan Marihot Marpaung, anggota DPRD Ketapang Martin Rantan, pengusaha Bewendi Hwa, dan beberapa tokoh masyarakat lainnya.

Acara pemberian gelar tersebut dilaksanakan oleh sesepuh adat diiringi dengan tabuhan music tradisional dayak. Setelah acara pemberian gelar mereka juga dipersilahkan untuk menari sebagai bagian dari rasa sukur mereka kepada Tuhan.

Kadisbudparpora Ketapang Yudo Sudarto mengatakan, pemerintah sangat mendukung dengan adanya kegiatan seperti ini. Sebab hal tersebut juga sebagai upaya masyarakat adat untuk melestarikan kebudayaan yang ada di Ketapang.

"Kita siap memfasilitasi kegiatan semacam ini, namun harus rutin dilaksanakan sehingga bisa masuk dalam kalender tetap kita, dengan demikian kita bisa melakukan promosi baik melalui brosur ataupun website pemerintahan," jelasnya.

Yudo mengatakan, kegiatan seperti ini, saat ini sudah mulai jarang dilakukan, apalagi bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan. Padahal pelestarian budaya semacam ini merupakan khasanah kebudayaan bangsa yang harus tetap dipertahankan.

"Kebanyakan yang ada malah dipedalaman, seperti maruboh atau pencucian benda pusaka, sampai kini acaranya masih berlangsung. Dan setiap tahun kita adakan pembinaan," jelasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved