Style Blitz Tribun

Disengat Tawon Saat Hunting

Demi mendapatkan momen dengan angle yang bagus, Danniel rela berendam di sungai dan tidur tiduran di atas tanah.

Tayang:
Editor: Jamadin
zoom-inlihat foto Disengat Tawon Saat Hunting
Kumbang Macan Metalik
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Fotografi makro merupakan seni fotografi yang dilakukan dengan jarak yang sangat dekat, untuk memperoleh detail gambar yang tinggi, namun tidak membutuhkan alat pembesar optik seperti mikroskop.

Fotografi makro biasanya mempunyai rasio 1:1, yakni besar gambar yang dihasilkan sama ukurannya dengan benda aslinya.

Satu di antara penggemar fotografi makro adalah Danniel Partogi. Sejak kuliah, Penasehat Komunitas Makro Kalbar (Komka) ini sudah menyukai dunia fotografi.

Kala itu, kemanapun dia pergi, kamera poket miliknya selalu dibawanya, dan digunakan untuk menjepret objek apapun yang ditemuinya dan belum memusatkan diri terjun ke dalam fotografi makro.

Namun, sejak Desember 2010, Danniel, sapaan akrabnya, mengkiblatkan dirinya masuk dan lebur ke aliran fotografi makro, yang umumnya di Indonesia lebih dominan memotret serangga.

"Fotografi makro itu mengekspos nuansa alamiah alam, seperti serangga yang jenisnya beraneka ragam," kata Danniel yang dominan ke aliran makro ekstrIm ini.

Demi menyalurkan hobinya tersebut, Danniel tak segan segan merogoh kocek dalam dalam membeli DSLR Canon 550D seharga Rp 7 juta. Puas menggunakan kamera itu, dan mengetahui detail spesifikasi kamera itu, tak lama berselang, Danniel mengganti kameranya dengan membeli Canon 60D seharga Rp 8 juta untuk body kamera saja. Sedangkan untuk lensa, Daniel menggunakan lensa makro 100 mm seharga Rp 8 Juta dan 150 mm seharga Rp 11,2 Juta.

"Alasan mengganti kamera hanya ingin mendapatkan kualitas makro yang sempurna dengan noise atau bintik-bintik hitam yang rendah, dan ketajaman gambar lebih detail. Sebab, pengaruh alat terhadap kualitas makro sangat berkaitan," ungkap Danniel, yang pernah menjadi nominasi 10 fotografer terbaik makro Indonesia 2011.

Namun, dikatakan Danniel, yang pernah menjadi Fotografer of The Year 2011 di Bali, lensa makro bukan satu-satunya alat untuk memperoleh foto makro. Makro juga dapat menggunakan tehnik reverse ring (lensa dibalik), extension tube (penambahan aksesoris makro yang dipasang antara body dan lensa) dan filter close up.

"Tehnik-tehnik di atas belum cukup. Fotografer makro harus memiliki kemampuan pada penguasaan kamera yang mencakup tiga item, yaitu shutter speed, diafragma, dan ISO," ujarnya.

Demi mendapatkan momen dengan angle yang bagus, Danniel rela berendam di sungai dan tidur tiduran di atas tanah. Disengat tawon dan bertemu ular sebesar 2 meter juga pernah dialaminya saat hunting makro di hutan Sungai Ambawang.

Danniel yang kerap diundang oleh komunitas pecinta fotografi makro di berbagai kota di Indonesia, merekomendasikan agar menggunakan lensa yang fix, contohnya 90 mm, 100 mm, dan 150 mm, untuk menghasilkan ketajaman gambar yang baik.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved