Klaim JAT Teroris
Putra Baasyir Tertawakan Amerika
Bersamaan maaf Presiden AS pada Presiden Afghanistan atas pembakaran Alquran, Deplu AS memasukkan JAT organisasi teroris
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, JAKARTA - Bersamaan permintaan maaf Presiden AS Barack Obama kepada Presiden Afghanistan atas pembakaran Alquran yang dilakukan perwira AS di pangkalan tentara Bagram, utara Kabul, Deplu AS memasukkan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) sebagai organisasi teroris asing.
Organisasi JAT diklaim terlibat dalam berbagai serangan terorisme di Indonesia. Depkeu AS pun mengeluarkan kebijakan baru. Pertama menjatuhkan sanksi pada tiga anggota terkemuka JAT, melarang warga AS dan kelompok bisnis melakukan transaksi apa pun dengan JAT.
Amerika pun membekukan aset anggota JAT. Tiga anggota JAT yang masuk daftar sanksi itu, Pjs Amir JAT Mochammad Achwan, Jubir Son Hadi bin Muhadjir dan Perekrut dan Pencari Dana JAT, Abdul Rosyid Ridho Baasyir.
"AS mengambil langkah lain untuk memastikan bahwa teroris terputus dari sistem keuangan internasional dan merasa semakin sulit melakukan tindakan kekerasan, tidak peduli di mana mereka berada," kata Direktur Pengawasan Aset Asing Depkeu AS, Adam Szubin di Washington, Kamis (23/2/2012) waktu setempat.
Vonis AS tersebut tak urung membuat geram anggota JAT. Putra Pimpinan JAT Abu Bakar Baasyir, Abdul Rochim Baasyir tertawa mendengar sanksi embargo Depkeu AS. "Jangankan berbisnis di AS atau dengan orang AS, punya uang Rp 10 ribu saja, JAT sudah bersyukur," tegas Abdul Rochim Baasyir di Jakarta, Jumat (24/2/2012).
"Dari dulu mendengar seperti itu ketawa sendiri. Kami punya duit Rp 10 ribu saja Alhamdulillah," tandas putra Baasyir yang akrab disapa Ustaz Iim ini. Menurut Iim, tindakan AS menuduh itu malah mengurangi wibawa AS.
"Amerika terus berusaha menyebar fitnah dan kebohongan. AS mau omong apapun silakan lah. Seharusnya sebagai negara besar menjaga wibawa, tidak menyebar fitnah dan kebohongan," katanya.
"AS beberapa kali melakukan penipuan pada dunia dengan serius. Bilang ada senjata pemusnah massal sebagai legalitas masuk ke Irak. Sekarang tahu sendiri kondisi Irak, AS tak mampu kembalikan Irak seperti semula. Korbannya, ya umat Islam di Irak," tutur Iim.
Sebelumnya, Adam Szubin juga menuding JAT berusaha mendirikan negara Islam di Indonesia, dan telah melakukan sejumlah serangan pada personel pemerintah Indonesia serta warga sipil untuk mencapai tujuan tersebut.
Deplu AS juga menilai JAT bertanggungjawab atas berbagai serangan terkoordinasi atas warga sipil yang tak bersalah, polisi dan personel militer di Indonesia. JAT bahkan dituding mendapat senjata dengan cara merampok bank dan melancarkan sejumlah kegiatan ilegal.
Pemerintah AS menuding JAT berupaya membentuk kekalifahan di Indonesia. Abu Bakar Baasyir dianggap berperan membentuk Jamaah Islamiyah, kelompok militan berbasis di Asia Tenggara yang terkait jaringan teroris Alqaeda.
Pravonis Baasyir
Menurut data Depkeu AS, Pjs Amir JAT Mochammad Achwan menyediakan dana untuk pembangunan kamp pelatihan militan di Aceh pada 2010. Para militan menggunakan nama Alqaeda di Aceh, bertujuan membunuh para pekerja kemanusiaan AS dan turis-turis Barat lain.
Son Hadi, dianggap berperan menyediakan bahan peledak untuk serangan bom JI di Kedubes Australia di Jakarta yang menewaskan sembilan orang dan melukai 182 lainnya.
Sedangkan Abdul Rosyid dikenal sebagai pimpinan JAT yang berperan merekrut anggota dan menggalang dana. "Kami punya hubungan iman sebagai Islam. Kalau yang disebut hubungan kerja sama dengan Alqaeda, Amerika punya bukti apa?" tegas Iim.
Ustaz Iim menuding balik Amerika sebagai pembohong. "Mari bicara fakta saja. Pernyataan mereka tak usah ditelan bulat-bulat. Anggap angin lalu," katanya.
Sebelumnya, 16 Agustus 2011, AS juga menuding Ustaz Iim, Muhammad Jibril dan Umar Patek menunjukan komitmen mereka terhadap kekerasan. "Itu kategorisasi ngawur sekali. Ini saya rasa hanya untuk menancapkan hegemoni di Indonesia," kata Jubir JAT, Son Hadi.