Sabtu, 4 Juli 2015

Bongkar Korupsi Sawit Kalbar

Selasa, 27 September 2011 01:59

Bongkar Korupsi Sawit Kalbar
TRIBUN PONTIANAK/DOK
Perkebunan sawit di Parindu, Sanggau ini merupakan bagian harta sawit yang melimpah di Bumi Khatulistiwa.

Negara konon merugi sampai Rp 9 triliun. Bau korupsi di sektor perkebunan dan pertambangan di Kalimantan, termasuk Kalbar, sejatinya bukan hal baru. Sejak bertahun-tahun lalu, telah menjadi rahasia umum.

Laporan demi laporan, baik warga maupun lembaga swadaya masyarakat bak nyanyian pilu. Tak mampu menembus meja penyidikan Kejaksaan maupun Polri, apalagi masuk pengadilan. Yang mengejutkan, nilai kerugian negara mencapai Rp 9.146.223.897.000.

Relatif fantastis, hampir 4,5 kali lipat lebih besar dibanding APBD Tahun 2011 Kalbar yang hanya sekitar Rp 1,8 triliun. Praktik korupsi ini juga sebagian besar terjadi di Bumi Khatulistiwa. Yakni, di Kabupaten Ketapang, Sambas dan Bengkayang.

Satu kabupaten lainnya, Seruyan, Kalimantan Tengah. Nilai kerugian negara itu dihitung menggunakan tiga metode. Nilai kerugian negara dari tegakan kayu yang hilang, persentase nilai kerugian negara dari penerimaan provisi sumber daya hutan, dan penerimaan dana reboisasi.

ICW mencatat tujuh perusahaan yang diduga melakukan aktivitas penyerobotan kawasan hutan demi kepentingan bisnis kelapa sawit di Sambas, Ketapang dan Bengkayang.

Di Seruyan, bahkan teridentifikasi oknum pejabat yang mendirikan perusahaan-perusahaan "boneka" kemudian diberi izin lokasi, konsesi kehutanan. Bagaimana praktik korupsi ini tak tersentuh hukum?

Bumi Kalimantan yang dikaruniai Tuhan kekayaan alam melimpah, baik hutan, aneka tambang dan sawit, tak ubahnya gula teramat manis bagi semut-semut berkepala koruptor. Siapapun yang memiliki akses dan kewenangan, cenderung berburu harta alamiah ini.

Halaman123
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas