Pelindo II Sebut Pelabuhan Internasional Kijing Mendesak
Selama ini pemerintah pusat melakukan pengerukan sekitar Rp 70 miliar per tahun untuk mengeruk ujung Sungai Kapuas supaya bisa dilalui
Penulis: Dhita Mutiasari | Editor: Jamadin
Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Dhita Mutiasari
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, MEMPAWAH - Direktur Teknik dan Managemen Resiko PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) Dani Rusli Utama mengatakan pembangunan Pelabuhan Internasional Kijing ini sudah mendesak untuk dibangun.
Hingga saat ini PT Pelabuhan II sudah mengoperasikan terminal di Pontianak yang berjarak 3 KM dari laut ke arah darat. Sementara kedalaman sungai 4-4,5 meter dimana dilakukan sistem rolling kapal masuk dengan mengandalkan pasang surut air laut.
"Faktanya untuk kapal dari luar masuk ke dalam menunggu 6-7 jam untuk masuk ke dalam, karena harus menunggu pasang surut air laut," ujarnya.
Dengan demikian, kapal yang bisa dilayani maksimal hanya kapal kapal ukuran 300-400 Teus. "Jadi kapal yang bisa masuk kecil sekali," tambahnya.
Kemudian fakta lainnya PT Pelindo II Pontianak memiliki lapangan untuk peti kemas hanya 3-4 hektare yang sudah sangat penuh dan tidak bisa lagi menampung Kalimantan Barat ini. "Jadi, kami khawatir sekali jika ekonomi disini membaik, kami tidak siap,"ungkapnya.
Maka dari itu, pihaknya menuturkan melakukan studi place di tahun 2014 silam dimana Pantai Kijing ini yang diterobos kepada pemerintah untuk ditetapkan sebagai lokasi pelabuhan Internasional.
Beberapa alasan yang mendukung rencana ini diantaranya dari titik pantai ke pulau Temajok sekitar 6 KM. Dimana kedalaman pantai tepat 3 KM dari bibir pantai ke arah pulau memiliki kedalaman 15 meter sehingga diharapkan tidak ada pengerukan.
"Selama ini pemerintah pusat melakukan pengerukan sekitar Rp 70 miliar per tahun untuk mengeruk ujung Sungai Kapuas supaya bisa dilalui," ujarnya.
Maka harapan dengan adanya dermaga dapat mengurangi beban pemerintah dan kapal-kapal besar dapat mudah bersandar ke Kalbar. Kemudian kelebihan lainnya keberadaan pulau Temajuk yang berfungsi pemecah gelombang sehingga setiap tahun gelombang di daerah ini stabil.
Dengan kondisi ini maka kapal dapat melakukan bongkar muat lebih mudah. "Jadi dorongan kita karena ekonomi yang terus membaik, kemudian fasilitas tidak mencukupi lagi dan ketersediaan lahan di wilayah pantai Kijing sudah optimal,"ungkapnya.
Oleh karena itu, pemerintah pusat menerbitkan rencana induk pelabuhan yang berlokasi di Pantai Kijing dengan kondisi yang ada dan rencana matang.
Dani menyebut dalam pembangunan dermaga internasional ini dibagi 3 tahapan dimana tahapan pertama dibangun 500 meter dermaga dengan lahan 10 hektare.
"Dengan dimulainya pembangunan ini harapan kita dapat membangun ekonomi kita dan menampung ekonomi Kalbar,"ujarnya.
Kemudian pembangunan akan dilakukan bertahap hingga optimal. Kemudian dikatakannya lokasi Kijing sangat strategis berdekatan dengan Natuna, Singapura dan perbatasan perairan lainnya. Sehingga jika dijadikan pusat CPO maka kondisi sangat ideal.
"Kita juga sudah bekerjasama dengan Inalum, Aneka Tambang dan beberapa industri CPO yang akan melakukan panen raya beberapa tahun kedepan,"ungkapnya.
Langkah ini dikatakannya sebagai antisipasi untuk bisa melayani perkembangan Kalbar.
Ia mengatakan saat ini Pelindo II dalam tajap mengurus perijinan.
"Saat ini kerangka amdal juga berjalan. Kalau sudah selesai perpres, maka kita akan tender," tukasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/sekda-terima-kunjungan-pansus_20170426_103737.jpg)