Tekan Inflasi Jelang Imlek dan Ramadan, Bupati Sintang Minta TPID Bergerak Cepat

Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala memimpin langsung Rapat Koordinasi High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
BERIKAN KETERANGAN - Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala memimpin langsung Rapat Koordinasi High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Sintang Tahun 2026, di Pendopo Bupati Sintang. 
Ringkasan Berita:
  • Rakor strategis ini digelar untuk mematangkan langkah antisipatif menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), mulai dari Imlek, Bulan Suci Ramadan, hingga Idulfitri 1447 Hijriah. 
  • Seluruh anggota TPID Kabupaten Sintang hadir dalam pertemuan tersebut.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,SINTANG - Bupati Sintang Gregorius Herkulanus Bala memimpin langsung Rapat Koordinasi High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Sintang Tahun 2026, di Pendopo Bupati Sintang.

Rakor strategis ini digelar untuk mematangkan langkah antisipatif menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), mulai dari Imlek, Bulan Suci Ramadan, hingga Idulfitri 1447 Hijriah.

Seluruh anggota TPID Kabupaten Sintang hadir dalam pertemuan tersebut.

Dalam arahannya, Bupati menegaskan bahwa rakor ini menjadi momentum penting untuk menyinergikan strategi menjaga stabilitas harga, kelancaran distribusi, ketersediaan pasokan, serta komunikasi yang efektif kepada masyarakat.

“Pada tahun 2025, inflasi Kabupaten Sintang tercatat 2,02 persen. Angka ini berada di atas inflasi Provinsi Kalimantan Barat sebesar 1,85 persen, namun masih di bawah inflasi nasional yang mencapai 2,92 persen,” jelasnya.

Baca juga: Satbrimob Polda Kalbar Bersama Polres dan Kodim Sintang Evakuasi Korban Tenggelam di Sungai Melawi

Ia memaparkan, inflasi pada Desember 2025 terutama dipicu oleh kenaikan harga cabai rawit akibat penurunan produksi karena curah hujan tinggi, serta kontribusi dari emas perhiasan, bawang merah, sabun mandi cair, dan tarif angkutan udara.

Memasuki tahun 2026, Bupati menyebut tantangan ekonomi daerah semakin kompleks. Penurunan transfer ke daerah, gangguan produksi akibat anomali cuaca, serta meningkatnya permintaan musiman pada periode HBKN memberi tekanan pada pasokan komoditas strategis seperti beras, cabai, dan bawang.

“Belum lagi dampak akselerasi program makan bergizi gratis, kenaikan harga emas, tarif angkutan udara, hingga LPG 3 kilogram yang ikut menekan stabilitas ekonomi daerah,” ujarnya.

Dampak tersebut tercermin pada inflasi Januari 2026 yang mencapai 4,52 persen, tertinggi di Kalimantan Barat, dan melonjak tajam dibandingkan inflasi Januari 2025 yang hanya 0,12 persen. Andil terbesar inflasi berasal dari tarif listrik (2,24 persen), emas perhiasan (1,24 persen), bahan bakar rumah tangga (0,32 persen), beras (0,17 persen), dan bawang merah (0,10 persen).

Menghadapi kondisi ini, Bupati meminta TPID Kabupaten Sintang segera mengambil langkah konkret. Mulai dari pendataan stok dan harga bahan pangan, pengendalian serta tindakan preventif terhadap potensi gejolak pasokan dan harga, hingga pengawasan terbuka terhadap distribusi pangan.

“Saya juga minta dilakukan kerja sama antar daerah, terutama dengan wilayah yang mengalami defisit atau berpotensi mengalami lonjakan harga,” tegasnya.

Selain itu, Bala menekankan agar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang bertugas segera melaksanakan operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah.

“HBKN tinggal hitungan hari. Imlek segera kita rayakan dan Ramadan sudah di depan mata. Saya harap langkah-langkah ini segera direalisasikan untuk menjaga daya beli dan ketenangan masyarakat,” pungkasnya. (*)

- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp

!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved