Pengamat Pendidikan Kalbar : TKA Sebaiknya Jadi Instrumen Pendukung, Bukan Syarat Utama SNBP
ia menilai TKA pada dasarnya memiliki tujuan baik, yaitu mengukur kemampuan dasar siswa dalam bernalar, menganalisis, dan memecahkan masalah.
Penulis: Anggita Putri | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Pengamat Pendidikan Kalbar, Suherdiyanto, menanggapi terkait Kemendikdasmen resmi membuka pendaftaran Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 sebagai pengganti Ujian Nasional untuk jenjang SMA/MA, SMK/MAK/SMALB, serta Paket C/PKPPS Ulya atau sederajat .
Berdasarkan Permendikdasmen Nomor 9 Tahun 2025, sertifikat hasil TKA akan digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi.
Atas aturan tersebut, ia menilai TKA pada dasarnya memiliki tujuan baik, yaitu mengukur kemampuan dasar siswa dalam bernalar, menganalisis, dan memecahkan masalah.
“Tes ini tidak berfokus pada hafalan, tapi lebih pada analisis serta kemampuan mengaitkan pengetahuan dengan situasi nyata. Dari sisi ini tentu positif karena bisa membedakan siswa yang memahami konsep dengan yang hanya mengandalkan hafalan,” ujarnya kepada Tribun Pontianak, Kamis 28 Agustus 2025.
Namun, Suherdiyanto menekankan bahwa efektivitas TKA tetap terbatas karena kompetensi siswa bersifat multidimensi. Aspek lain seperti kreativitas, keterampilan komunikasi, sikap, dan motivasi belajar tidak sepenuhnya dapat diukur hanya lewat tes tertulis.
Terkait kemungkinan TKA dijadikan syarat Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), ia mengingatkan adanya potensi pergeseran makna jalur prestasi tersebut.
“SNBP sejatinya berbasis rekam jejak prestasi akademik di sekolah. Jika TKA dijadikan syarat utama, bisa jadi esensinya berubah menjadi sekadar jalur tes tambahan. Bahkan, ini berisiko mengurangi semangat siswa,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kesenjangan pendidikan, khususnya di Kalimantan Barat, di mana akses bimbingan belajar, fasilitas, hingga sarana-prasarana belum merata.
Baca juga: Siswa SMAN 3 Pontianak Ungkap Perasaan Jadi Angkatan Pertama Ikut TKA 2025
Menurutnya, siswa di sekolah-sekolah terpencil berpotensi lebih sulit beradaptasi dengan pola tes potensi akademik.
Oleh karena itu, ia menilai TKA lebih tepat dijadikan instrumen pendukung, bukan syarat utama SNBP.
“TKA bisa digunakan sebagai bahan pertimbangan tambahan, misalnya untuk melihat kesesuaian siswa dengan jurusan yang dipilih. Tapi jangan sampai menjadi penghalang akses siswa terhadap jalur prestasi,” katanya.
Suherdiyanto juga menekankan pentingnya standarisasi soal, penyediaan modul latihan, try out, sosialisasi yang matang, serta pendekatan psikologis dan evaluasi berkala agar TKA benar-benar adil dan proporsional.
Terakhir, ia menegaskan bahwa pendidikan yang baik harus memberi kesempatan setara bagi siswa SMA maupun SMK.
“Keduanya memiliki karakter berbeda, tapi sama-sama berhak atas peluang yang adil. Sistem evaluasi tidak boleh hanya menguji akademik, melainkan juga harus menghargai keberagaman minat, bakat, dan potensi prestasi siswa,” tutupnya. (*)
- Baca Berita Terbaru Lainnya di GOOGLE NEWS
- Dapatkan Berita Viral Via Saluran WhatsApp
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!!
Terkenal Dekat Dengan Wartawan, Banda Kolaga Kadis LH Landak Resmi Masuk Masa Purna Tugas |
![]() |
---|
Siswa SMAN 3 Pontianak Ungkap Perasaan Jadi Angkatan Pertama Ikut TKA 2025 |
![]() |
---|
PBVSI Mempawah Serius Perkuat Pembinaan Atlet Voli Lewat Pordezon |
![]() |
---|
Pasca Kebakaran di Ruangan Radiologi RSUD Landak, Pelayanan Tetap Berjalan Normal |
![]() |
---|
Kejari Landak Gelar Donor Darah Sambut HUT Kejaksaan RI ke 80, Kajari: Menumbuhkan Rasa Persaudaraan |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.