Cerita Warga Pontianak Korban Kecelakaan Speed Boat di Padang Tikar Kubu Raya

Saat ini Tim SAR masih melakukan pencarian tiga warga yang hilang di perairan Padang Tikar Kubu Raya Kalimantan Barat, Ari Nopiandi, Geri dan Sanusi

Editor: Nasaruddin
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/FERRYANTO
TUNJUKKAN FOTO - Irwan, satu di antara korban selamat kecelakaan air di Padang Tikar Kubu Raya, Kalimantan Barat karena speed boat bocor dan dihantam gelombang besar, menunjukkan foto Ari Nopiandi, satu diantara korban yang belum ditemukan, ketika ditemui di rumahnya, Jalan Komyos Soedarso Pontianak, Minggu 20 April 2025. Irwan menceritakan kecelakaan air yang mengakibatkan tiga rekan kerja termasuk seorang menantunya sampai saat ini masih belum ditemukan. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kecelakaan air di wilayah Padang Tikar, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat terjadi pada Kamis 17 April 2025 siang lalu.

Speed Boat dengan 15 penumpang termasuk juru mudi, bocor dan dihantam gelombang besar.

Hingga Senin 21 April 2025 pagi, tiga penumpang belum ditemukan.

Sementara penumpang lain, dipastikan selamat.

Satu di antara korban selamat, Irwan Kuswantri (55) menceritakan kronologi kejadian di sekitar jermal 9 perairan Padang Tikar, Kecamatan Batu Ampar, Kubu Raya, Kalimantan Barat itu.

Baca juga: SAR Pontianak Lakukan Pencarian Korban Speedboat di Muara Padang Tikar 

Menurut Irwan, mereka semula berada di tongkang untuk bekerja.

Pada hari kejadian, mereka semua berencana pulang menuju Rasau.

"Kami malam datangnya itu pakai speed tapi bukan dari speed yang kecelakaan itu speed lain," kata warga Jalan Komyos Soedarso Pontianak Barat ini, saat ditemui Minggu 20 April 2025.

"Kebetulan pas mau pulang itu kami ditawari untuk menggunakan speed dari pihak owner yang lain. Kami ikut. Sebelumnya sudah saya tanyakan dulu dengan sopir speed itu, muat tidak ini untuk 11 orang sama barang-barang. Terus dia bilang ayo saja ikut," ucap Irwan. 

Dalam perjalanan pulang, Irwan mengatakan sekitar pukul 12.38 WIB, bagian depan speed boat yang ditumpangi tiba-tiba mengalami bocor dan pecah.

Saat itu kondisi cuaca mendung, angin kencang disertai gelombang tinggi, namun tidak hujan.

Juru mudi speed sempat meminta sejumlah penumpang membantu menutup lubang dibagian depan dengan alat seadanya.

Tidak lama setelah itu, tiba - tiba bagian depan langsung tenggelam dan ada penumpang terpental.

"Saya kurang tahu juga itu mendadak ada gelombang besar langsung air nyembur dari depan langsung gitu," ungkap Irwan. 

"Jadi ada sekitar 50 m jarak speed dari jermal pas speed kebalik baru kami loncat dari speed lalu kami berenang menyelamatkan diri masing-masing," jelas Irwan.

Sebagian penumpang ada yang memakai pelampung dan ada juga yang tidak sempat mengenakan karena shock

Irwan ketika itu berusaha menuju tiang jermal untuk berpegangan.

Dirinya juga melihat sang menantu, Ari Nopiandi dan dua rekan kerjanya, Geri serta Sanusi melakukan hal serupa.

Namun beberapa saat kemudian, gelombang besar datang.

Ari dan dua rekan kerjanya hilang dari pandangan.

Irwan menceritakan, posisi berpengaran pada tiang jermal sangat sulit dan menegangkan.

Selain karena gelombang besar, tiang jermal yang dipenuhi teritip membuat mereka kesulitan bertahan.

Tenaga untuk bergerak ke tempat lain atau naik ke atas pondok yang berada tak jauh dari tiang ermal yang ia pegang itupun sulit.

"Itu karena banyak teritip, berpegangan aja susah, karena sakit. Teritipnya itu kan tajam cangkangnya, dan gelombang besar," katanya.

"Ini badan saya sampai luka-luka. Ada teman yang naik ke atas pondok di sekitaran jermal itu tapi saya sudah tidak ada tenaga lagi, jadi berusaha bertahan,'' ungkapnya.

Setelah lama bertahan, mereka diselamatkan warga dan Tim SAR.

Irwan berharap, Ari Nopiandi dan dua rekan kerjanya, Zwageri serta Sanusi bisa ditemukan dalam kondisi selamat.

Anak Selalu Bertanya

Irwan mengatakan, Ari Nopiandi adalah suami dari putri pertamanya yang sudah meninggal dunia 11 bulan lalu.

Putrinya itu meninggal dunia akibat pendarahan saat melahirkan anak keduanya.

Ari memiliki dua anak.

Anak pertama laki - laki, berusia 10 tahun dan anak kedua perempuan berusia 11 bulan.

Irwan menyampaikan Ari merupakan sosok menantu yang baik dan bertanggung jawab terhadap keluarga.

Selama ditinggalkan istrinya, ia menyampaikan Ari yang tinggal bersamanya selalu rajin dan tidak pernah merepotkan keluarga.

Irwan mengungkapkan, bahwa Ari sendiri merupakan pimpinan rombongan pekerja, dan ia juga kerab bekerja bersama Ari.

Baca juga: SAR Pontianak Lakukan Pencarian Korban Speedboat di Muara Padang Tikar 

''Dialah pemimpin kami dalam suatu kelompok kerja, dia yang mengkomandoi kami untuk mengerjakan ini itu, biarpun menantu, dia sebagai pemimpin, saya ikutin juga, karena memang dia baik, dia juga tidak pernah marah ke saya,'' tuturnya.

''Harapannya cepat ketemulah dalam kondisi apapun, karena anaknya yang pertama itu nanyakan terus bapaknya, dia manja sekali dengan bapaknya,'' katanya. (fer/chr)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved