DSP3AKB Landak Bantu Pengurusan TKI yang Meninggal Melahirkan di Malaysia

TKI yang sudah bekerja kurang lebih 7 tahun di Malaysia ini, meninggal dalam perjalanan menuju ke rumah sakit untuk proses persalinan.

Tayang:
Penulis: Alfon Pardosi | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
Proses pemulangan TKI asal Kabupaten Landak yang diurus oleh DSP3AKB Landak pada Senin 26 Februari 2024 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK - Nasib tragis kembali dialami oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Kabupaten Landak yang meninggal dunia di Negeri Jiran Malaysia pada 23 Februari 2024.

Dari informasi yang didapat, TKI yang sudah bekerja kurang lebih 7 tahun di Malaysia ini, meninggal dalam perjalanan menuju ke rumah sakit untuk proses persalinan.

Meski anak yang dikandung oleh sang ibu berhasil selamat, sedangkan yang melahirkan harus kehilangan nyawa. Karena prosesnya tidak tertangani dengan baik.

Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DSP3AKB) Paolip Spd membenarkan peristiwa naas tersebut.

Korban meninggal dunia atas nama Riska (30), warga Dusun Manining, Desa Taas, Kecamatan Menyuke. Almarhum merupakan pekerja sebagai buruh perkebunan sawit di Malaysia dan meninggal dunia karena melahirkan.

Baca juga: DAFTAR 35 Anggota DPRD Kabupaten Landak Sekarang Cek Perolehan Suara Caleg DPRD 2024 Siapa Terpilih

Setelah mendapat kabar ada warga Landak yang meninggal, pihaknya langsung berkoordinasi dengan KJRI di Malaysia. Prosesnya pun cukup rumit, karena TKI tersebut dokumennya kurang lengkap.

"Tapi kita bersyukur, sesuai permintaan pihak keluarga proses pemulangan bisa terlaksana dengan baik tepatnya pada Senin 26 Februari 2024 kemarin," terang Paolip kepada wartawan pada Selasa 27 Februari 2024.

Ketika proses pemulangan jenazah dan bayi yang selamat itu tiba di Entikong, Kabupaten Sanggau, turut hadir juga dari pihak keluarga korban.

"Jadi setelah keluar dari Malaysia dan berada di zona netral, setelah adminitrasi beres, langsung kita serahkan ke pihak keluarga yang ikut menjemput untuk proses selanjutnya," jelas dia.

Paolip menuturkan, dari informasi yang diterima, korban meninggal dunia disebabkan oleh plasenta yang tidak keluar.

"Jadi jarak tempat mereka di Sibu Malaysia itu untuk ke rumah sakit sangat jauh. Maka terlambat penanganan," bebernya.

Ia pun mengucapkan turut berdukacita atas peristiwa itu. Pihaknya memang sering menangani hal-hal seperti ini jika ada warga Landak yang mengalami kesusahan di Malaysia.

"Untuk tahun 2024, ini adalah kasus ketiga. Sebelumnya memang juga ada yang kita bantu tangani, meski dokumen mereka ini rata-rata tidak lengkap," sebutnya.

Meski demikian, ia pun menyampaikan jika DSP3AKB Landak selalu siap jika ada pihak keluarga yang perlu bantuan.

"Asalkan pihak keluarga masih bisa berkomunikasi lewat WA atau FB. Ada alamat lengkapnya dan bisa dicari, tentu akan kami bantu," pungkasnya. (*)

Dapatkan Informasi Terkini dari Tribun Pontianak via SW DI SINI

Ikuti Terus Berita Terupdate Seputar Kalbar Hari Ini Di sini

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved