Catatan Perjalanan Romo Johannes Robini Marianto ke Jerman, Hadiri International Networking Days

Pada hari ke-2 program ini diisi dengan Workshop dan Audiensi bersama Mendikbud Sachsen, Jerman.

Editor: Jamadin
File/Romo Johannes Robini Marianto
Perwakilan San Agustin, Romo Johannes Robini Marianto OP (Ketua Yayasan Landak Bersatu), Romo Mingdry Hanafi T OP (Rektor), Kunto Nurcahyoko, Mustika Aji H dan Trio Kurniawan foto bersama di Jerman. Kegiatan ini diselenggarakan Technische Universität (TU) Dresden Jerman 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo (San Agustin) hadir dalam Program International Networking Days (IND) 2023 yang diselenggarakan oleh Technische Universität (TU) Dresden Jerman pada 8-13 Juni 2023.

Program ini merupakan bagian dari Kerjasama Internasional antara San Agustin dan TU Dresden.

Perwakilan San Agustin yang hadir dalam pertemuan ini adalah Romo Johannes Robini Marianto OP (Ketua Yayasan Landak Bersatu), Romo Mingdry Hanafi T OP (Rektor), Kunto Nurcahyoko, Mustika Aji H dan Trio Kurniawan.

San Agustin menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang hadir dalam pertemuan internasional tersebut.
Selain Indonesia, negara-negara yang hadir di IND 2023 adalah Australia, Colombia, Mesir, Hong Kong, Hungaria, Indonesia, Israel, Trinidad & Tobago, Uganda, Jerman, Jepang, Mozambik, Amerika, Vietnam dan lainnya.

Gua Maria di Bukit Kelam Sintang Ambruk, Romo Patris Ajak Umat Ambil Bagian untuk Bangun Ulang


IND 2023 merupakan kegiatan yang berisi rangkaian workshop yang berfokus pada pendidikan dan kursus bagi guru-guru, sharing ide tentang pertukaran pelajar/dosen, kebiasaan-kebiasaan baik di institusi masing-masing hingga pendekatan-pendekatan kreatif untuk internasionalisasi kampus.

Selain itu, TU Dresden memberi kesempatan bagi seluruh peserta untuk melakukan School Visit ke sekolah-sekolah di Negara Bagian Sachsen (Dresden) Jerman dan berdialog dengan Kementrian Pendidikannya agar peserta mendapat gambaran riil tentang sistem dan pengelolaan pendidikan di Negara Bagian Saxony (Dresden) Jerman.

Di hari pertama, Mustika Aji H menjadi satu di antara pembicara dengan tema Schools for the Future-Visions and Challenges.

Aji menyampaikan konteks pendidikan di Indonesia (secara khusus di Kalimantan Barat), tantangan dan kebijakan pendidikan yang bisa dipelajari oleh negara-negara peserta program ini. Lewat presentasi ini, Aji ingin menjelaskan peran strategis Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo dalam mengembangkan pendidikan di Kalimantan Barat.

Selain itu, San Agustin juga diberi kesempatan untuk memperkenalkan program-program kampus kepada mahasiswa/i TU Dresden dan peserta yang hadir di kegiatan ini.

Tujuannya adalah agar kerjasama internasional San Agustin semakin berkembang dan keterlibatan komunitas internasional dalam pengembangan mahasiswa/i San Agustin semakin meningkat.

Presentasikan Riset

Pada hari ke-2 program ini diisi dengan Workshop dan Audiensi bersama Mendikbud Sachsen, Jerman. Satu di antara perwakilan San Agustin yang menjadi pembicara dalam workshop hari ini adalah Kunto Nurcahyoko.

Kunto memberikan presentasi dengan topik Bridging the Digital Divide: Exploring Blended Learning in Rural Indonesia. Dalam sesi ini, Kunto menyampaikan hasil risetnya tentang Blended Learning yang ia lakukan bersama mahasiswa Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo setelah Pandemi Covid-19.

Lewat hasil riset ini, Kunto meyakini bahwa perbedaan dan kesulitan di setiap daerah sejatinya tidak menjadi penghalang bagi institusi pendidikan untuk mengembangkan kemampuan siswa, guru, karyawan ataupun dosen. Dalam konteks pembelajaran, Blended Learning masig sangat dimungkinkan untuk dilaksanakan, termasul di daerah pinggiran. Teknologi harus menjadi alat manusia, bukan sebaliknya.

Setelah melaksanakan workshop, seluruh peserta Program International Networking Days 2023 melakukan audiensi bersama Mendikbud Sachsen Jerman di Gedung Kementerian Pendidikan. Dalam audiensi ini, Kemendikbud Sachsen Jerman meminta pendapat seluruh peserta tentang Program 10 Tahun Kemendikbud Sachsen Jerman.

Borneo Mobility Program

Di bagian akhir IND 2023, peserta mengikuti beberapa workshop yang tidak kalah menarik. Di sesi pembuka, Tim San Agustin dan peserta lainnya diberi kesempatan menyampaikan usulan-usulan menarik terkait pengembangan pendidikan di seluruh dunia.

Salah satu usulan menarik dari sesi ini adalah perlunya dibangun sebuah platform global yang menghubungkan dosen-mahasiswa dan guru-murid dari seluruh belahan dunia untuk belajar secara setara.

Setelah menyelesaikan sesi pertama, peserta dibagi dalam 2 kelompok, yaitu kelompok untuk Workshop Funding (Pembiayaan) dan Workshop Mobility Program.

Pada sesi Workshop Mobility Program, Kunto kembali berbicara tentang topik Borneo Mobility Program: Connecting Worlds.

Kunto menjelaskan tentang program pertukaran yang mungkin dilakukan di Kalimantan Barat melalui Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo. Di sini, San Agustin kembali menunjukkan posisinya untuk mempromosikan kebudayaan dan pendidikan di Kalimantan Barat ke tingkat internasional.

Borneo Mobility Program mendapat sambutan baik dan hangat dari peserta IND 2023. Beberapa negara berdiskusi secara intens dengan tim San Agustin untuk menindaklanjuti program ini. Semoga program ini berdampak baik pada pengembangan kualitas pendidikan di Kalimantan Barat.

Program IND 2023 ini sendiri memiliki arti penting bagi Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo. Pertama, IND 2023 menjadi media bagi San Agustin untuk terhubung dengan pakar pendidikan dari berbagai negara, mengembangkan kegiatan pertukaran budaya dan memperluas perspektif tentang pengelolaan pendidikan.

Kedua, program ini memberikan kesempatan bagi San Agustin di tahun pertamanya berdiri untuk membangun kerjasama internasional yang sangat bernilai sehingga seluruh dosen, tendik dan mahasiswa/i di San Agustin semakin mampu bersaing dan “berbicara” di level internasional. Sebagai catatan, internasionalisasi San Agustin ini sebenarnya sudah dimulai sejak kolaborasinya dengan University of Santo Tomas Manila (Filipina).

Ketiga, program ini juga membuka ruang seluas-luasnya bagi San Agustin untuk melakukan riset kolaboratif bersama kampus-kampus terbaik di dunia. Secara perlahan, San Agustin bergerak menjadi sebuah kampus riset. Harapannya, riset-riset ini bisa berguna untuk pengembangan sumber daya dan kehidupan manusia. (trio kurniawan/citizen reporter)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved