Waspada Phishing, Jangan Terburu-buru Masukkan Email Dalam Link Belum Jelas

Biasanya, hacker mengecoh korban dengan membagikan link "jebakan" agar korban mau mengeklik link tersebut.

Kompas.com
Halaman Google Translate palsu digunakan hacker untuk melakukan searangan phishing. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Phishing adalah upaya untuk mendapatkan data pribadi seseorang dengan teknik tipuan.

Dimana strategi hacker untuk mengelabuhi calon korbannya kini semakin variatif.

Peneliti keamanan siber dari Avanan menemukan praktik phishing yang dilakukan hacker dengan memanfaatkan situs Google Translate palsu.

Biasanya, hacker mengecoh korban dengan membagikan link "jebakan" agar korban mau mengeklik link tersebut.

Adapun praktik phishing yang ditemukan Avanan, link tersebut dilampirkan dalam sebuah e-mail yang dikirimkan kepada peneliti terkait.

Google Menambahkan 3 Fitur Baru ke Google Translate

Dalam temuannya, beberapa e-mail yang ditulis dalam bahasa Spanyol.

E-mail itu mengeklaim berasal dari pihak penyedia layanan e-mail korban dan manyatakan bahwa identitas mereka yang terbuka di tab baru, tidak dikonfirmasi.

Bila korban tidak segera bertindak, mereka akan kehilangan akses ke e-mail yang belum dibaca.

Menurut peneliti Avanan, praktik ini adalah praktik standar e-mail phishing karena rasa panik akan membuat orang bertindak tidak rasional dan gegabah.

Dalam kondisi tersebut, korban kemungkinan akan mengklik tautan berbahaya yang disertakan atau mengunduh lampiran e-mail.

Dalam e-mail phishing yang diterima peneliti, korban disarankan untuk mengklik tautan dalam e-mail untuk mengonfirmasi identitasnya.

Ketika tautan itu diklik, korban diarahkan ke halaman Google Translate palsu. Halaman tersebut juga memuat pop up yang mengharuskan pengguna login menggunakanakun e-mailnya.

Nah, data login tersebut yang mencakup nama akun dan kata sandi, kemudian dikirimkan ke hacker.

Begini Cara Mudah Menterjemahkan Dokumen di Google Translate

Mirisnya, halaman Google Translate yang palsu itu tampak seperti asli karena menurut para peneliti, hacker memakai banyak Javascript untuk memolesnya.

Selain itu, secara teknis mereka juga memasukkan program Unescape dalam Javascript untuk memanipulasi sistem dan menyembunyikan niat jahatnya.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved