Beli Mobil Tunai, Seorang Warga Pontianak Bingung Ditetapkan Jadi Tersangka Oleh Polda Kalbar

"Kwitansi yang dipergunakan ada di Samsat, foto copy sudah diserahkan ke penyidik. Mengenai ada yang palsu kita tidak tau," ujarnya.

Penulis: Ferryanto | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Ferryanto
Indra Cica (kerudung cokelat), warga Pontianak saat menemui sejumlah petugas kepolisian dari Polda Kalbar yang hendak menggeledah rumahnya. Tribun Pontianak Ferryanto. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Seorang warga Kota Pontianak bernama Indra Cica mengaku bingung karena telah ditetapkan sebagai tersangka sejak dua tahun lalu atas dugaan pemalsuan kwitansi dari sebuah mobil yang sudah dia beli secara tunai.

Namun, semenjak ditetapkan sebagai tersangka oleh direktorat reserse kriminal umum Polda Kalbar, hingga kini dirinya tidak ditahan oleh kepolisian.

Indra menceritakan bahwa dirinya mengaku bingung dengan kasus yang menjeratnya, dimana kasus tersebut bermula dari pembelian mobil truk trailer tahun 2017 dari seorang pria berinisial JN yang merupakan saudara dari rekan kerjanya yakni AN.

Pada tahun tersebut ia betransaksi membeli truk tersebut di Mega Mall Pontianak, Jalan Ahmad Yani.

Mobil tersebut dibeli dengan harga Rp350 juta, dan transaksi saat itu disaksikan tiga orang.

Baca juga: Kalbar Masih Menumpang Kaltim untuk Pengolahan Limbah Medis, Wagub : Tunggu Izin Pemerintah Pusat

Saat itu, setelah dibeli mobil tersebut tak langsung diambil, karena AN beralasan barang itu masih diperlukan

Hingga akhirnya mobil tersebut diambil Indra pada tahun 2019, saat itu iapun mengurus proses balik nama, dan tiga bulan kemudian BPKB truk itupun jadi.

Selang beberapa waktu, Indra malah mendapat kabar bahwa dirinya dilaporkan atas kasus kwitansi palsu, dirinya pun terkejut dan heran atas laporan tersebut.

Kemudian pada tahun 2021, Indra dipanggil polisi, dan saat itu dirinya mendapati kwitansi pembeliannya telah berubah.

"Saya lihat kok kwitansinya berubah. Nama perusahaan tulisan tangan, dan nama perusahan berbeda," ungkapnya, Jumat 9 Desember 2022.

Dalam kasus tersebut Indra mengaku heran, apa dasar polisi menetapkan dirinya tersangka, terlebih dengan dasar pelapor yang hanya menyampaikan tidak menjual mobil, sementara, Indra menyampaikan memiliki bukti berupa BPKB, bukti jual beli hingga foto penyerahan uang.

Kemudian pada 6 Desember 2022, sejumlah petugas Kepolisian dari Polda Kalbar hendak melakukan penggeledahan rumahnya untuk mendapatkan barang bukti, namun saat itu ia menyampaikan pihaknya menolak pengeledahan terserah.

Kuasa hukum Indra, Herawan Utoro mengatakan, kasus tersebut semestinya di SP3. Sebab, polisi tak memiliki cukup bukti.

Herawan memastikan, klienya tak pernah membuat, dan menandatangani kwitansi yang disebut palsu. Sebab, kwitansi pembelian mobil tersebut sudah diserahkan ke Samsat.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved