Tok! Terdakwa Kasus Pembunuhan Berencana di Sajingan Besar Sambas Divonis Penjara Seumur Hidup

"Pada hari Rabu 30 November 2022 Pengadilan Negeri Sambas telah menjatuhkan putusan dalam perkara pembunuhan berencana di Sajingan Besar yang dilakuka

Penulis: Imam Maksum | Editor: Faiz Iqbal Maulid
Istimewa
Terpidana penjara seumur hidup AK kasus pembunuhan berencana terhadap istrinya di Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas. AK diputuskan pidana seumur hidup oleh Majelis Hakim PN Sambas, Rabu 30 November 2022. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Sambas menjatuhkan pidana penjara seumur hidup kepada AK dalam kasus pembunuhan berencana.

"Pada hari Rabu 30 November 2022 Pengadilan Negeri Sambas telah menjatuhkan putusan dalam perkara pembunuhan berencana di Sajingan Besar yang dilakukan oleh Terdakwa AK terhadap istrinya," kata Juru Bicara PN Sambas, Hanry I Adityo dalam keterangan resminya, Kamis 1 Desember 2022.

Hanry mengatakan dalam persidangan terdakwa dituntut oleh Kejaksaan Negeri Sambas dengan tuntutan pidana selama 20 (dua puluh tahun) penjara.

"Berawal dari perasaan sakit hati dan emosi terhadap H yang notabene ayah kandungnya sendiri ditambah ada persoalan ekonomi, membuat AK selaku suami dan kepala keluarga berniat untuk mengakhiri hidup bersama istri dan anak-anaknya," katanya.

Bupati Sambas Sambut Kajati Kalbar

Kajati Kalbar Kunker ke Sambas, Isi Kuliah Umum di Poltesa

Dia menyebut hingga pada Kamis 30 Juni 2022 AK kembali meyakinkan perbuatannya tersebut justru mendapat penolakan dari istrinya agar kembali memikirkan untuk mengurungkan perbuatannya.

Hanry menjelaskan fakta persidangan terdapat beberapa fase kritis didapati istri Terdakwa masih dalam keadaan hidup paska penusukkan dan pemukulan di daerah vital. Namun demikian, terdakwa tetap terus melanjutkan perbuatannya hingga korban akhirnya tidak lagi bernyawa.

"Kemudian terdakwa memutuskan pergi dan meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil seorang diri di rumah yang menyaksikan keadaan ibunya bersimbah darah hingga timbulnya rasa trauma mendalam yang dikhawatirkan menganggu proses tumbuh kembang anak akibat perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa tersebut," ujarnya.

Selain itu, kata Hanry dalam diri terdakwa ditemukan perbuatan permulaan kehendak untuk mengakhiri hidup bersama. Di mana hal demikian tidak mencerminkan perilaku sebagai seorang kepala keluarga yang baik. 

"Atas pertimbangan tersebut Majelis Hakim memutuskan menjatuhi hukuman pidana seumur hidup bagi terdakwa. Harapan putusan ini dapat memberikan keadilan bagi para pihak terutama keluarga besar korban dan bagi masyarakat pada umumnya. Semoga bisa diambil banyak hikmah atas peristiwa luar biasa yang terjadi ini," katanya.

Cek berita dan artikel mudah diakses di Google News

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved