Khazanah Islam

Ciri-ciri Wali Allah dan Defenisinya Menurut Sejumlah Tokoh Agama

Wali Allah kerap identik dengan mereka yang memiliki karomah. Secara umum para wali Allah dapat dikenali meski tidak mudah dipastikannya.

Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK
Secara umum para wali Allah dapat dikenali meski tidak mudah dipastikan. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Pada Setiap kesempatan kadang kita mendengar para pemuka Agama menjelaskan tentang Wali.

Wali Allah kerap identik dengan mereka yang memiliki karomah.

Secara umum para wali Allah dapat dikenali meski tidak mudah dipastikannya.

Satu di antaranya adalah dengan melihat amalan keagamaan yang konsiten dilakukan.

Namun demikian, itu saja tidak cukup.

Arti dan Rukun Khutbah dalam Ibadah, Syarat Menjadi Khatib dalam Shalat Jumat

Kadang kala kewalian dalam diri seseorang amat sulit diidentikasi.

Lantas apakah yang dimaksud dengan wali?

Wali berarti hamba atau orang yang dekat atau mencinta.

Jika disebut wali Allah, maka secara bahasa adalah hamba yang dekat atau mencintai Allah SWT.

Adapun pengertian wali secara istilah, para tokoh Islam memberi defenisi yang berbeda-beda, yaitu:

Abdul Munim al-Kahfi

Wali yaitu orang-orang yang mempunyai ilmu yang mendalam, karena kedalaman ilmunya ia beriman atas apa-apa yang datang dari Allah SWT melalui kitab dan rasul-Nya.

Abu Nua’im al-Ashfahaniy

Dirinya mengatakan bahwa wali adalah orang-orang yang senantiasa berzikir kepada Allah, mereka terjaga dari fitnah zaman dan hidup fakir.

Dalam artian mereka tidak hidup dalam tirani syahwat. Mereka adalah orang-orang yang paling dicintai oleh Allah Swt dan Rasul SAW.

Al-Hakim al-Tirmidzi

Wali adalah seseorang yang dekat kepada Allah SWT dalam petunjuk, pertolongan, jiwanya dan mengangkatnya ke tempat yang tinggi dengan penuh kesungguhan.

Kemudian Allah memperkokoh kesungguhannya sehingga ketika seluruh upaya tercurahkan, Allah posisikan dirinya dihadapan-Nya dengan penuh tunduk patuh dan berserah diri.

Al-Jurjani

Wali Allah adalah orang yang mengetahui Allah dan sifat-sifatNya, yang berjalan dalam ketaatan dan konstan, menghindari kekerasan dan membebaskan pikirannya dari belenggu kesenangan duniawi dan nafsu seksual semata.

Berangkat defenisi-defenisi tersebut dapat dimaknai bahwa Wali Allah tidaklah merujuk kepada seluruh orang-orang Muslim, sebagaimana yang dipahami secara umum,

namun defenisi ini merujuk kepada dua hal: Pertama; wali adalah seorang muslim yang beribadah kepada Allah dengan cara yang khusus, tanpa diselingi dosa.

Dalam artian ia tidak hanya mengerjakan apa-apa yang diwajibkan di dalam Islam, tetapi juga mengerjalan apa-apa yang disunnahkan.

Kedua, Wali adalah orang-orang yang dicintai dan dilindungi oleh Allah Swt, dan terjaga dari dosa.

Ciri-ciri Wali Allah

Beriman. Keimanan yang dimiliki oleh seorang wali tidak dicampuri oleh berbagai kesyirikan.

Keimanan tersebut tidak hanya sekadar pengakuan tetapi keimanan yang mengantarkan kepada ketaqwaan.

Membenci dan mencintai karena Allah SWT.

Penuh loyalitas dalam ketaatan.

Menyembunyikan kewalian dan mengedepankan tawadhu’

Seseorang yang dipelihara oleh Allah Swt dari melakukan dosa besar.

Kalau para nabi dan rasul bersifat maksum (terjaga dari maksiat) maka para wali Allah bersifat mahfudz (selalu dalam bimbingan Allah Swt baik dalam taat maupun dalam khilaf.

Segera bertaubat bila melakukan dosa sekalipun hanya sekejap.

Kalau para nabi dan rasul bersifat makhsum (terhaga dari maksiat) maka para Wali Allah bersufat mahfudz (selalu dalam bimbingan Allah SWT baik dalam taat maupun dalam khilaf.

Jika melihat mereka, akan mengingatkan kita kepada Allah SWT. (*)

Disclaimer : Isi redaksi dan pembahasan materi diatas dilansir dari buku siswa Madrasah Aliyah (MA/SMA) Terbitan Kementerian Agama tahun 2020.

Simak Berita terkait Khazanah Islam Tribun Pontianak.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved