Khazanah Islam

Waspadai Jebakan Istidraj, Apa Ciri dan Amalan Agar Terhindar Istidraj

Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandary RA berkata, “Apabila seseorang diberikan kenikmatan oleh Allah, tetapi ia lupa tidak mensyukuri atas nikmat

Editor: Hamdan Darsani
Kolase Tribunpontianak.co.id / sid / google
betapa banyak orang yang berbuat kesalahan (dosa) lalu mereka diberikan kenikmatan, dan mereka lupa beristighfar atas perbuatan dosa yang mereka lakukan. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Satu di antara ciri orang yang beriman adalah selalu berhati-hati dan khawatir dengan kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepadanya.

Kenapa harus khawatir? Karena kenikmatan tersebut bisa saja berupa istidraj

Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandary RA berkata, “Apabila seseorang diberikan kenikmatan oleh Allah, tetapi ia lupa tidak mensyukuri atas nikmat tersebut.

Kemajuan Kota Baghdad Era Daulah Abbasiyah, Materi Pelajaran Agama Islam Kelas 8 SMP/Mts

Sementara di sisi lain justru nikmatnya semakin bertambah, maka ketahuilah, yang demikian itu disebut istidraj.

Sebagaimana yang dikatakan oleh Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandary RA :

“خف من وجود إحسانه إليك، ودوام إساءتك معه أن يكون ذلك إستدراجا”

“Takutlah adanya kebaikan Allah kepadamu yang disertai langgengnya kemaksiatanmu kepada-Nya, itulah yang dinamakan “istidraj“.

Apa yang disampaikan oleh As- Syeikh tersebut berdasarkan pada firman Allah SWT:

والذين كذبوا بأياتنا سنستدرجهم من حيث لا يعلمون ( ألأعراف: ١٨٢)

“Dan orang-orang yang mendustakan Kami, maka akan Kami tunda-tunda mereka dengan berangsur-angsur (sampai pada kebinasaan), dengan cara yang mereka tidak mengetahuinya”. (Q.S. Al-A’raf: 182).

Syeikh Ibnu Athaillah As-Sakandary RA mengingatkan, betapa banyak orang yang berbuat kesalahan (dosa) lalu mereka diberikan kenikmatan, dan mereka lupa beristighfar atas perbuatan dosa yang mereka lakukan.

Lalu Allah terus memberi kenikmatan berupa kesehatan dan lainnya, hingga Allah mencabut nikmat tersebut secara tiba-tiba, baik dicabut orangnya ataupun kenikmatan yang telah mereka peroleh.

Berdasarkan hal tersebut di atas dapat disimpulkan, bahwa ketika seseorang mendapatkan kenikmatan, baik nikmat materi maupun non materi,

hendaklah ia bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Dzat Pemberi nikmat, dan bukannya lupa kepadaNya.

Dan segera ikutilah bersyukur kepadaNya, baik secara lisan, perbuatan maupun keyakinan dalam hati.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved