Warga Terdampak Banjir di Sintang Mulai Ngungsi, Dirikan Tenda Darurat Beratap Terpal

"Sudah lima hari. Kami tiga orang. Kalau kena hujan, bocor dan tempias," kata Sugianti ditemui Tribunpontianak di lokasi pengungsian, Kamis 13 Oktober

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/AGUS PUJIANTO
Kopda Fernando mengunjungi warga terdampak banjir yang mengungsi di pondok darurat yang dibangun secara pribadi. Warga terdampak banjir di Sintang, Kalimantan Barat, mulai mengungsi. Mereka mulai meninggalkan rumah yang terendam banjir ke tempat yang lebih aman. Ada yang di lokasi yang disiapkan oleh pemerintah desa dan kecamatan, ada pula yang berinisiatif mendirikan tenda darurat. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Warga terdampak banjir di Sintang, Kalimantan Barat, mulai mengungsi. Mereka mulai meninggalkan rumah yang terendam banjir ke tempat yang lebih aman. Ada yang di lokasi yang disiapkan oleh pemerintah desa dan kecamatan, ada pula yang berinisiatif mendirikan tenda darurat.

Seperti yang dilakukan oleh keluarga Sugianti. Dia bersama dengan suami, anak dan ibunya sudah lima hari ini tinggal di pengungsian sementara yang didirikan menggunakan kayu, papan dan terpal tak jauh dari rumahnya di depan Makorem 121/Abw.

Pengungsian darurat dibuat seadanya, beratap terpal. Jika hujan deras, bocor dan tempias.

"Sudah lima hari. Kami tiga orang. Kalau kena hujan, bocor dan tempias," kata Sugianti ditemui Tribunpontianak di lokasi pengungsian, Kamis 13 Oktober 2022.

Saat ini rumah Sugianti sudah terendam luapan sungai kapuas. Di dalam rumahnya, sudah selutut dalamnya.

Sugianti memutuskan mengungsi lebih dini karena belajar dari pengalaman banjir pada tahun 2021 lalu.

Masyarakat Diingatkan Waspada Banjir Sintang Luapan Sungai Kapuas dan Sungai Melawi

"Belajar dari pengalaman, kalau tahun dulu kan masih ngukur air. Masih nanti-nanti aja. Sekarang kalau udah nengok air pasang cepat bikit tenda darurat. Bapak yang buat tenda, beli papan segala apa, takut terulang tahun lalu ndak bisa nenyelamatkan segala kulkas. Tahun lalu sampai atap. Sekarang barang sudah keluar semua," ungkapnya.

Sugianti tidak keberatan apabila kedepan dipindahkan ke posko pengungsian yang lebih layak. Keputusan membuat tenda darurat karena ingin dekat dari rumah.

"Untuk makan sekarang masak sendiri, ada beras. Air bersih beli. Kalau bisa minta bantuannya. Soalnya kan jaga barang juga biar dekat, maklum musim banjir," kata Sugianti.

Ketua Rt setempat, Mulhadi menyebut sudah 10 rumah di Rt 4 yang tenggelam. Namun, tidak menutup kemungkinan jumlah warga terdampak bertambah.

"Beberapa hari ini ada 9 sampai 10 rumah yang sudah tenggelam. Namun, karena kondisi air makin naik, saya kira kedepan bisa warga di sini terkena, kurang lebih 45 kk, kemudian jiwa 150 jiwa terdampak. Ada beberapa yang sudah mengungsi, 4 KK, ada juga yang tinggal di rumah menunggu barang," ujar Mulhadi.

Saat ini, belum ada lokasi pengungsian yang jadi rujukan warga terdampak banjir. Warga masih berinisiatif pribadi.

Kopda Fernando, Bhabinsa Kelurahan Tanjung Puri mengatakan dia sudah berkoordinasi dengan Komandan Kodim 1205/Sintang untuk peminjaman lahan sebagai tempat lokasi pengungsian di depan Markas Korem 121/Abw. J

"Wilayah saya ada dua Rt terdampak, Rt 4 dan lima. Saya sudah Koordinasi ke pimpinan untuk peminjaman lahan kosong, bangun tenda darurat pengungsian kalau seketika dibangun mungkin warga yang di pengungsian kami evakuasi, rencana kami akan dirikan di lapangan depan korem," ujar Fernando.

Data yang dihimpun di lapangan, ada beberapa titik pengungsian yang sudah mulai diisi oleh warga. Seperti di Gedung Loka Bina Karya Dinsos, jalan YC Oevang Oeray, Cadika di Desa Baning.

"Untuk posko pengungsian SDN 15 warga yang mengungsi ada 25 jiwa 6 kk dan semuanya warga RT. 03 Kapuas Kiri Hulu," kata Camat Sintang, Tatang Supriyatna. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved