Resep Pemerintah Turunkan Harga Tiket Pesawat Belum Manjur, Kini Malah Tambah Maskapai Baru

Resep pemerintah menstabilkan Harga Tiket Pesawat hingga saat ini belum terbukti manjur bahkan kini menambah Maskapai baru.

Editor: Rizky Zulham
KOLASE TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/RIZKY ZULHAM
Ilustrasi tiket pesawat - Resep Pemerintah Turunkan Harga Tiket Pesawat Belum Manjur hingga Kini Tambah Maskapai . 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Resep pemerintah menstabilkan Harga Tiket Pesawat hingga saat ini belum terbukti manjur bahkan kini menambah Maskapai baru.

Hampir lebih satu setengah bulan sejak Presiden Joko Widodo memerintahkan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Menteri BUMN Erick Thohir untuk menurunkan Harga Tiket Pesawat.

Atau bahasa halusnya, mencari pemecahan yang terbaik terkait Harga Tiket Pesawat sehingga tidak merugikan penumpang dan maskapai penerbangan.

Namun sampai saat ini, harga tiket pesawat masih tinggi, berada di batas atas dari tarif yang ditetapkan oleh Kementerian Perhubungan.

KINI Pesawat Jet China Saingan Nyata Boeing dan Airbus, Apa Kelebihan dan Kekurangannya?

Lalu, bagaimana resep Menteri Perhubungan dan Menteri BUMN untuk menekan harga tiket pesawat seperti perintah Presiden Jokowi?

Hampir serempak, keduanya mengajukan resep yang menurut mereka jitu, yaitu penambahan kapasitas penerbangan.

Baik itu dengan menambah jumlah pesawat maupun menambah frekuensi penerbangan oleh maskapai yang sudah ada dan syukur-syukur kalau ada maskapai baru yang muncul.

Setelah satu setengah bulan, seharusnya resep itu mulai menampakkan hasilnya.

Namun kenapa sampai saat ini harga tiket pesawat tetap tidak turun? Benarkah penambahan kapasitas itu resep yang ampuh?

Penambahan kapasitas

Sesuai hukum ekonomi, kalau barang yang beredar di masyarakat banyak, maka harganya akan turun karena ada persaingan antarbarang. Hal ini akan berlaku pada kondisi persaingan bisnis yang sehat antarprodusen.

Namun tidak berlaku jika pasarnya monopoli, yaitu produsennya hanya satu atau ada satu produsen yang mendominasi dari produsen lain.

Jika terjadi demikian, maka harga akan diatur oleh pemegang monopoli atau produsen yang dominan.

Produsen yang lain, biasanya akan mengikuti. Kalau tidak, produsen tersebut akan dimatikan oleh produsen yang dominan.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved