Lokal Populer

Hambatan Dalam Pencegahan dan Pengendalian Rabies di Kalbar

Gigitan hewan penular rabies menelan 112 korban jiwa sepanjang 8 tahun terakhir dengan total 19.619 kasus gigitan di Kalimantan Barat.

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Agus Pujianto
Seekor kucing disuntik vaksin anti rabies saat peringatan Hari rabies sedunia di kantor dinas pertanian dan perkebunan di Kabupaten Sintang. Gigitan hewan penular rabies menelan 112 korban jiwa sepanjang 8 tahun terakhir dengan total 19.619 kasus gigitan. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kasus gigitan hewan penular rabies masih terjadi di Provinsi Kalimantan Barat. Pada tahun 2022 saja, sudah delapan orang meninggal dunia, 2 di antaranya warga Kabupaten Sintang.

Gigitan hewan penular rabies menelan 112 korban jiwa sepanjang 8 tahun terakhir dengan total 19.619 kasus gigitan di Kalimantan Barat. Dari 14 Kabupaten kota di Kalbar, hanya Pontianak yang masih bebas dari kasus rabies.

Kasus rabies di Kalimantan Barat, muncul pada Oktober 2014. Delapan tahun lamanya, kasus ini belum mereda hingga saat ini masih banyak laporan kasus gigitan maupun korban jiwa.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalbar, Drh, Banter Wahyudi menyebut ada sejumlah hambatan dalam pencegahan dan pengendalian rabies di Kalbar. Pertama, masyarakat belum sadar pentingnya vaksinasi hewan peliharaan untuk pencegahan rabies.

Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang Tetapkan Lima Titik Vaksinasi Rabies Gratis

"Belum semua masyarakat pemilik hewan penular rabies seperti anjing, kucing dan kera itu bersedia atau mau suka rela untuk melakukan vaksinasi terhadap hewannya. Kemudian kondisi sosial masyarakat, hewan peliharaan punya kedekatan emosional sehingga memang di situ perlu peran kesadaran dari masyarakat pemilik hewan agar mau melakukan vaksinasi," ujar Banter kemarin.

Menurut Banter, vaksinasi merupakan cara paling mudah, efisien dan murah yang bisa dilakukan untuk pencegahan, dibandingkan setelah terjadi kasus gigitan yang dapat berakibat fatal pada manusia.

"Setelah ada kasus gigitan itu memerlukan upaya pengobatan dan beresiko korban meninggal. Pencegahan bisa dilakukan dengan vaksinasi semua hewan penular rabies," jelas Banter.

Diakui Banter, keterbatasan SDM terutama dokter hewan yang minim juga menjadi hambatan dalam vaksinasi hewan penular rabies. Ditambah lagi dukungan anggaran operasional dan ketersediaan vaksin rabies.

"Beberapa kabupaten jumlah dokter hewan masih sangar minim, sehingga untuk mengatasi atau melakukan program vaksinasi ada kendala, kemudian terkait dengan ketersediaan anggaran. Jadi memang ini masih dirasa kurang terutama pengadaan vaksin dan operasionalnya itu beberapa hal yang cukup menghambat kegiatan pencegahan dan pengendalian rabies. Tapi tentu dengan peran dan kesadaran masyarakat, bagaimana semua pihak bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk membawa hewan peliharaan untuk divaksin itu akan dapat mencegah kasus penyakit rabies," ungkap Banter.

Kunci Keberhasilan

Kesadaran masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan memutuskan mata rantai penyebaran wabah rabies di Kabupaten Sintang. Tanpa dukungan ini, program vaksinasi terhadap hewan penular rabies tidak akan tercapai.

Sekretaris Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang, Gunardi mengatakan dua warga Sintang yang meninggal akibat digigit anjing rabies menjadi peringatan bagi masyarakat.

"Tahun ini total gigitan 209 kasus. Yang meninggal 2 orang kena gigitan anjing. Tentunya dalam hal ini menjadi sebuah peringatan bagi kita kejadian luar biasa terhadap rabies. Karena itu kita minta masyarakat semuanya yang memiliki anjing peliharaan itu wajib divaksin anti rabies," kata Gunardi, Kamis 29 September 2022.

Gunardi melihat, kesadaran masyarakat mulai meningkat di Sintang setelah banyak kasus gigitan anjing dan menyebabkan dua orang meninggal dunia.

"Kesadaran masyarakat dan kades mereka sangat ingin sekali bebas daripada rabies dengan berbagai macam permintaan ke kita, antara lain penyuntikan vaksin ini meningkat terus hampir setiap minggu ada surat dari kades supaya anjing peliharaan atau kuncing divaksin rabies. Saya pikir masyarakat kita sudah sadar untuk memutus rantai itu," ungkap Gunardi.

Hanya saja, ketersediaan vaksin anti rabies juga perlu dipastikan cukup ditambah dengan anggaran operasional. Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan sudah mengajukan dana BTT vaksin. Pemkab Sintang memberikan bantuan 5 ribu dosis.

"Kita punya ketersediaan cukup banyak sekali yang harus kita suntik pada hewan penular rabies. Ada sekitar 5 ribu dosis. Bagi desa yang mau vaksinasi silakan buat laporan, kita harapkan kerjasama masyarakat memutuskan mata rantai penyebaran rabies sehingga tidak ada korban jiwa. Kita minta bantuan satgas dan masyarakat terlibat. Tentunya kepala desa terlibat langsung harus kita ingatkan peran serta mereka supaya mengingatkan warganya," harap Gunardi.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved