Dinas Perkebunan dan Peternakan Ungkap Hambatan Pencegahan Rabies di Kalbar

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalbar, Drh, Banter wahyudi menyebut ad

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/AGUS PUJIANTO
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalbar, Drh, Banter Wahyudi. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Kasus gigitan hewan penular rabies masih terjadi di Provinsi Kalimantan Barat. Pada tahun 2022 saja, sudah delapan orang meninggal dunia, 2 di antaranya warga Kabupaten Sintang.

Gigitan hewan penular rabies menelan 112 korban jiwa sepanjang 8 tahun terakhir dengan total 19.619 kasus gigitan di Kalimantan Barat. Dari 14 Kabupaten kota di Kalbar, hanya Pontianak yang masih bebas dari kasus rabies.

Kasus rabies di Kalimantan Barat, muncul pada Oktober 2014. Delapan tahun lamanya, kasus ini belum mereda hingga saat ini masih banyak laporan kasus gigitan maupun korban jiwa.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner pada Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalbar, Drh, Banter Wahyudi menyebut ada sejumlah hambatan dalam pencegahan dan pengendalian rabies di Kalbar. Pertama, masyarakat belum sadar pentingnya vaksinasi hewan peliharaan untuk pencegahan rabies.

Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Sintang Tetapkan Lima Titik Vaksinasi Rabies Gratis

"Belum semua masyarakat pemilik hewan penular rabies seperti anjing, kucing dan kera itu bersedia atau mau suka rela untuk melakukan vaksinasi terhadap hewannya. Kemudian kondisi sosial masyarakat, hewan peliharaan punya kedekatan emosional sehingga memang di situ perlu peran kesadaran dari masyarakat pemilik hewan agar mau melakukan vaksinasi," ujar Banter kemarin.

Menurut Banter, vaksinasi merupakan cara paling mudah, efisien dan murah yang bisa dilakukan untuk pencegahan, dibandingkan setelah terjadi kasus gigitan yang dapat berakibat fatal pada manusia.

"Setelah ada kasus gigitan itu memerlukan upaya pengobatan dan beresiko korban meninggal. Pencegahan bisa dilakukan dengan vaksinasi semua hewan penular rabies," jelas Banter.

Diakui Banter, keterbatasan SDM terutama dokter hewan yang minim juga menjadi hambatan dalam vaksinasi hewan penular rabies. Ditambah lagi dukungan anggaran operasional dan ketersediaan vaksin rabies.

"Beberapa kabupaten jumlah dokter hewan masih sangar minim, sehingga untuk mengatasi atau melakukan program vaksinasi ada kendala, kemudian terkait dengan ketersediaan anggaran. Jadi memang ini masih dirasa kurang terutama pengadaan vaksin dan operasionalnya itu beberapa hal yang cukup menghambat kegiatan pencegahan dan pengendalian rabies. Tapi tentu dengan peran dan kesadaran masyarakat, bagaimana semua pihak bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk membawa hewan peliharaan untuk divaksin itu akan dapat mencegah kasus penyakit rabies," ungkap Banter. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved