Lokal Populer

BBM Mahal dan Sulit Didapat, Nelayan Sepuk Laut Berhenti Melaut

Karena kenaikan harga BBM dan sulitnya BBM didapat di Desa, nelayan tradisional Desa Sepuk Laut tidak mencari ikan sejak beberapa pekan lalu.

Penulis: Ferryanto | Editor: Destriadi Yunas Jumasani
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Bahtiar Agani, Nelayan harian dari desa nelayan sepuk laut saat menunjukkan kondisi kapalnya dan jaring ikannya yang rusak, Minggu 25 September 2022. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Dikarenakan bahan bakar minyak mahal dan sulit didapat, perekonomian Desa Nelayan Sepuk Laut, Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat terancam lumpuh.

Karena kenaikan harga BBM dan sulitnya BBM didapat di Desa, nelayan tradisional Desa Sepuk Laut tidak mencari ikan sejak beberapa pekan lalu.

Akibat hal itu, suasana desa sepuk laut pun seakan mati suri, karena tidak ada aktivitas mencari ikan dari para pria dan mengolah hasil tangkapan ikan dari para wanita, perekonomian pun nyaris lumpuh.

Ahmad Sarkawi, Kepala Dusun 3 Teluk Harapan, Desa Sepuk Laut yang juga nelayan mengungkapkan, Dusun yang ia pimpin terdiri dari 6 RT dan 2 RW dengan jumlah lebih dari 200 Kepala Keluarga.

Enam Rumah di Gang Sempit dan Padat Penduduk Ludes di Lahap Api

"99 persen warga Dusun disini Nelayan, sisanya ada yang wiraswasta dan sebagainya, dan memang selama ini warga kesulitan mendapat BBM, karena disini tidak ada penyalur resmi,"tuturnya, Minggu 25 September 2022.

Selama ini warga mendapatkan BBM dari pusat kecamatan Sungai Kakap, dan bila tiba di Desa Sepuk Laut yang berjarak puluhan KM serta hanya bisa menggunakan transportasi air harga BBM jauh lebih mahal.

"Sekarang sudah mahal langka juga, jadi nelayan disini tidak bisa melaut, warga ini tidak melaut sejak BBM naik, dengan kenaikan juga semakin langka,"ungkapnya.

Kepada Pemerintah Daerah, dirinya berharap bisa memperhatikan Desa Sepuk Laut yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan.

Kebutuhan utama Desa Sepuk Laut hanyalah bahan bakar minyak, dengan adanya bahan bakar minyak dengan harga terjangkau serta stoknya mencukupi, ia mengatakan maka perekonomian di Desa tetap dapat terus berjalan.

"Masyarakat Desa Sepuk Laut 99 persen Nelayan, jadi kalau tidak ada minyak masyarakat desa menganggur, bayangkan apa yang terjadi kalau masyarakat menganggur, karena bertani lahan di desa ini tidak bisa," terangnya.

Kepala Dusun berharap, pemerintah daerah bersama pihak terkait dapat mencarikan solusi terbaik agar warga desa nelayan Sepuk Laut mendapatkan solusi terbaik terkait sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak.

Di Desa ia berharap dapat dibentuk sub penyalur BBM  tersendiri untuk menyuplai bahan bakar minyak bagi nelayan tradisional yang ada di Desa.

Ambran Amin (52), tokoh masyarakat setempat yang juga nelayan  berharap hal serupa.

"Kita di Desa Sepok Laut mayoritas nelayan, satu - satunya penopang ekonomi dari hasil nelayan melaut, sekarang sudah minyak mahal langka lagi, nelayan banyak yang tidak bisa melaut,"katanya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved