Tak Bisa Melaut Karena BBM Mahal dan Langka, Dahlia: Cicilan Perahu dan Uang Sekolah Anak Nunggak

Hal itu membuat para nelayan tradisional harian di Desa itu tidak melaut, karena biaya dan pendapatan yang didapat tidak seimbang, yang membuat

Penulis: Ferryanto | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/Ferryanto
Dahlia (40) ibu rumah tangga di Desa Nelayan Sepuk Laut, kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar saat menjemur ikan milik tetangganya, Minggu 25 September 2022. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Hampir satu bulan lamanya nelayan di Desa Sepuk Laut, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, tidak melaut lantaran harga bahan bakar minyak yang mahal dan sulit didapat.

Semenjak harga BBM dinaikkan pemerintah, BBM jenis Solar di Desa Nelayan Sepuk Laut berkisar antara 14-15 ribu rupiah perliter.

Hal itu membuat para nelayan tradisional harian di Desa itu tidak melaut, karena biaya dan pendapatan yang didapat tidak seimbang, yang membuat para nelayan merugi.

Perekonomian Desa Nelayan Sepuk Laut Kubu Raya Nyaris Lumpuh Dampak BBM Mahal dan Langka

Dampak dari tidak melautnya para nelayan, perekonomian di desa pun terganggu, karena di desa tersebut penopang perekonomian utama dari hasil laut.

Dahlia (40) ibu rumah tangga di Desa Sepuk Laut mengungkapkan bahwa sudah beberapa pekan sang suami tidak melaut karena BBM yang sulit didapat dan mahal.

"Semenjak minyak mahal ini, suami saya tidak melaut, jadi pencarian susah, apa - apa mahal,"ujarnya.

Mata Pencaharian utama di desa adalah nelayan, dengan mahalnya BBM ini, ia mengeluhkan bahwa ia sudah sangat pusing untuk mengatur kebutuhan rumah tangga karena tidak ada pemasukan.

"Suami hanya melaut, kita belah ikan, untuk kerjaan lain susah disini, sekarang uang yang ada dihemat - hemat, dibagi - bagi biar cukup biar bisa untuk hidup setiap hari," tutur ibu 4 anak itu.

Tidak hanya itu, iapun memastikan bahwa pada bulan ini dirinya tidak dapat membayar pinjaman di Bank untuk membeli perahu karena tidak ada pendapatan.

"Ada pinjaman di Bank buat beli perahu dulu 40 juta, satu bulan satu juta lebih, jadi gimana mau bayar, tidak ada pendapatan, uang sekolah anak saya saja masih nunggak dua bulan belum bayar," keluhnya. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved