Lokal Populer

Polres Sekadau Amankan Satu Pekerja dan Peralatan Kerja Saat Geruduk Lokasi PETI

Saat personel tiba di lokasi, beberapa pekerja yang melihat kedatangan Polisi segera lari berhamburan dan masuk ke dalam hutan

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA/Dok. Humas Polres Sekadau
Pelaku tindak pidana PETI dan barang bukti yang diamankan Polres Sekadau, Sabtu 24 September 2022. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Polres Sekadau ungkap tindak pidana Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Dusun Nanga Mongko desa Nanga Mongko, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Provinsi Kalimantan Barat. Sejumlah alat bukti diamankan, Sabtu 24 September 2022.

Kapolres Sekadau melalui Kasat Reskrim Polres Sekadau, Iptu Rahmad Kartono memaparkan pengungkapan tindak pidana tersebut terjadi usai pihaknya menerima informasi dari masyarakat tentang aktivitas PETI di wilayah tersebut.

Penyelidikan pun dilakukan oleh Sat Reskrim Polres Sekadau dan personel Polsek Nanga Taman. Hingga pada saat sampai di lokasi kejadian, pihaknya berhasil menemukan aktivitas PETI tersebut.

Dari temuan itu, Polres Sekadau menahan pekerja dan sejumlah barang bukti, seperti 1 buah paralon ukuran 5 inc, 1 buah selang spiral ukuran 5 inc, 1 buah dulang, 1 helai kain kian, 1 buah karet panbel, 1 buah selang karet dan 1 buah selang tembak.

Hentikan Pencarian Korban Longsor PETI di Lembah Bawang Bengkayang

"Saat personel tiba di lokasi, beberapa pekerja yang melihat kedatangan Polisi segera lari berhamburan dan masuk ke dalam hutan. Sedangkan 1 orang yang tengah menjaga mesin di dalam tanah galian berhasil diamankan," jelasnya, Minggu 25 September 2022.

Diketahui pekerja yang berhasil diamankan tersebut merupakan pemilik mesin yang sedang digunakan. Pekerja tersebut kemudian beserta barang bukti dibawa ke Polres Sekadau guna proses hukum lebih lanjut.

"Upaya penegakan hukum ini merupakan tindaklanjut dari Ops Peti Kapuas yang dilaksanakan sejak tanggal 13 hingga 26 September 2022. Pelaku diancam Pasal 158 UU RI nomor 3 tahun 2020 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, " pungkasnya.

Momen Penindakan PETI

Kepala Divisi Kajian dan Kampanye WALHI Kalbar Hendrikus Adam menilai insiden tanah longsor yang terjadi di lokasi PETI pertambangan liar jadi moment untuk melakukan penataan dan penindakan praktik pertambangan liar.

"Peristiwa kecelakaan yang kerap terulang pada wilayah pertambangan selama ini mestinya dapat menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan langkah serius untuk melakukan penataan dan penertiban praktik penambangan yang berpotensi menyebabkan kerusakan maupun sejumlah dampak buruk lainnya, " kata Hendrikus Adam saat dikonfirmasi pada hari Minggu, 18 September 2022.

Risih Dengan Aktivitas PETI, Wabup Bengkayang Pinta Tangkap Cukong PETI

Menurutnya untuk memastikan adanya wilayah pertambangan rakyat perlu ditawarkan sebagai pilihan solusi bagi masyarakat, dengan tetap memastikan pembatasan perluasan ekstraksi pada wilayah-wilayah penting/lindung untuk tidak dieksploitasi.

"Ketidakjelasan pengaturan mengenai wilayah mana yang diperuntukan dan tidak akan tetap melahirkan dilema dan ketidakpastian. Karenanya, pemerintah perlu hadir memberikan keamanan, kenyamanan maupun perlindungan bagi lingkungan hidup," ujarnya.

Adam juga mengatakan upaya pemerintah melalui aparatur dalam penindakan praktik pertambangan liar kurang serius.

"Dalam hal ini upaya pemerintah melalui aparaturnya untuk melakukan penataan maupun penindakan praktik pertambangan liar selama ini sepertinya kurang serius," tegasnya.

Adapun praktik pertambangan tanpa izin kerap menjadi penyebab rusaknya wilayah sekitar akibat ekstraksi SDM.

"Rusaknya wilayah sekitar akibat ekstraksi sumberdaya alam melalui praktik pertambangan yang dilakukan di lokasi kejadi telah menyebabkan ekosistem sekitar harusnya menjadi penyangga mengalami kerusakan yang berbuah bencana ekologis longsor, "jelasnya.

Adam juga menambahkan, praktik ekstraksi sumberdaya alam dan lingkungan sekitar wilayah hidup komunitas melalui penambangan emas di Kalimantan Barat yang berimbas pada risiko kerusakan, longsor, pencemaran hingga terrenggutnya nyawa pekerja bukan hal asing selama ini.

"Termasuk longsor yang menimpa puluhan pekerja yang menjadi korban pada Kamis (15/9/2022) kemarin. Turut berdukacita dan prihatin atas kejadian tersebut," katanya.

"Peristiwa tragis akibat penambangan yang kerap terjadi hingga terrenggutnya nyawa seolah tidak menjadi pembelajaran pihak terkait maupun para pekerja tambang selama ini. Terlebih bahwa pembukaan lahan berbukit dengan kemiringannya yang ekstrim jelas berbahaya karena berpotensi menyebabkan bencana ekologis," tutupnya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved