Florianus Abong Ajak Umat Katolik di Sintang Tingkatkan Kesejahteraan Lewat Pekarangan Rumah

Penyuluh Pertanian Kecamatan Sintang Theresia Salim mengatakan eco-enzyme bisa diterapkan dan dibuat oleh warga digunakan sebagai pupuk.

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa
Pastor Kepala Paroki Katedral Kristus Raja Sintang, RD. Florianus Abong mendorong umat katolik untuk di lingkungan Paroki Katedral Kristus Raja Sintang untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan rumah. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Pastor Kepala Paroki Katedral Kristus Raja Sintang, RD. Florianus Abong mendorong umat katolik di lingkungan Paroki Katedral Kristus Raja Sintang untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan rumah.

Hal itu disampaikan Abong saat Seminar Membangun Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Keluarga Melalui Pemanfaatan Pekarangan Rumah Tangga di Balai Kenyalang belum lama ini.

Menurut Abong, semua rumah tangga pasti memiliki pekarangan yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan dan salah satunya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

"Caranya adalah dengan memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam aneka tanaman pertanian bernilai ekonomi seperti cabe dan anek sayur sayuran. Kami merasa perlu mendorong umat Katolik di Paroki Katedral Kristus Raja Sintang untuk memanfaatkan pekarangan rumah sebaik mungkin," ujar Florianus Abong.

Baca juga: BPBD Sintang Akan Usulkan Perbaikan Jembatan Gantung Nanga Masau Lewat Dana BTT

Abong berharap keluarga-keluarga yang ada di Paroki ini bisa semangat dan mulai bergerak memanfaatkan pekarangan untuk membangun ketahanan pangan dengan menanam cabe, tanaman bumbu dan aneka sayuran.

"Hasil akhirnya, kami ingin tanaman di pekarangan rumah ini bisa mencukupi kebutuhan keluarga akan cabe, bumbu dan sayuran bahkan kalau bisa sampai dijual, itu lebih baik," harapnya.

Penyuluh Pertanian Kecamatan Sintang Theresia Salim mengatakan eco-enzyme bisa diterapkan dan dibuat oleh warga digunakan sebagai pupuk.

"Cairan ini bisa dibuat dengan bahan gula merah, air dan sampah organik atau sisa-sisa makanan dari alam seperti sisa buah-buahan. Permentasi selama 3 bulan baru bisa digunakan sebagai pupuk," ujar Theresia Salim.

Sampah organik sangat banyak dihasilkan oleh rumah tangga. Theresia berharap setiap rumah bisa memilah sampah organik ini dan mulai mencoba membuat eco-enzyme ini.

Dengan demikian sudah mengurangi beban tempat pembuangan akhir sampah yang ada di Kota Sintang.

"Kita sudah membantu pemerintah dan menjaga lingkungan. Kita sudah ikut menjaga bumi dan diri kita sendiri. Eco-enzyme ini sangat baik untuk tanaman cabe dan sayuran. Ampas dari pembuatan eco-enzyme juga banyak manfaatnya," jelas Theresia Salim. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved