Lokal Populer

Risih Dengan Aktivitas PETI, Wabup Bengkayang Pinta Tangkap Cukong PETI

Insiden tanah longsor di lokasi Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) tersebut, dikabarkan telah mengakibatkan 20 orang pekerja tambang emas tertimbun lo

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa/Herlambang
Lokasi bukit yang longsor di kawasan diduga PETI Desa Kinande, Kecamatan Lembah Bawang, Kabupaten Bengkayang. Istimewa/ Herlambang 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Wakil Bupati Bengkayang memberikan tanggapannya terkait insiden tanah longsor yang terjadi di Desa Kinande, Kabupaten Bengkayang, Kamis, 15 September Kemarin.

Insiden tanah longsor di lokasi Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) tersebut, dikabarkan telah mengakibatkan 20 orang pekerja tambang emas tertimbun longsor.

Sampai berita ini diterbitkan, sudah 5 orang korban ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.

Wakil Bupati Bengkayang Syamsul Rizal, ia mengaku sudah cukup risih dengan aktivitas pekerjaan tambang emas ilegal ini.

Polisi Lakukan Penyelidikan Lokasi PETI yang Sebabkan Longsor Timbun Pekerja Hingga Meningga Dunia

Menurutnya para pekerja lapangan yang meninggal ini, hanya menjadi korban dari para pemodal serakah yang sudah tidak bisa diberi pemahaman lagi.

"Kalau saya sih tangkap aja bos-nya pemodal-pemodalnya itu, sumber masalah utamanya itu mereka," ucapnya. Minggu, 18 September 2022.

"Pemodal-pemodal itu enak-enak tinggal di Kota yang di lapangan jadi korban, kalau sudah ada korban seperti ini siapa yang bertanggungjawab," lanjutnya menjelaskan.

Ia pun meminta kepada para pemodal-pemodal usaha PETI ini untuk segera memberhentikan aktivitasnya.

Menurutnya saat ini kerusakan hutan dan lahan, akan berdampak jauh kedepan untuk generasi selanjutnya.

"Saya minta untuk para pemodal PETI ini untuk berhenti lah, untuk tidak semakin membuat kerusakan sumberdaya alam kita. Karena kasihan anak cucu kita nanti yang jadi korban," ucapnya.

Ia mengatakan, apabila hanya sekedar mendulang emas dengan skala kecil tanpa menggunakan sistem operasi yang merusak lingkungan, seperti yang dilakukan masyarakat di Desa-desa hanya sekedar mendulang untuk kebutuhan sehari-hari, ia mengaku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.

Namun, apabila aktivitas PETI tersebut dengan skala besar sampai melakukan pengerukan yang berpotensi menciptakan kerusakan lingkungan hutan dan lahan, ia sangat menentang hal tersebut.

Kemudian, disisi lain ia juga menjelaskan Insiden ini juga telah menyebabkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Banyak masyarakat menganggap pihak kepolisian tidak peduli untuk berupaya melakukan pencegahan terhadap aktivitas PETI ini.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved