Longsor PETI

WALHI Kalbar Nilai Insiden Tanah Longsor PETI Jadi Moment Penindakan Praktik Pertambangan Liar

Menurutnya untuk memastikan adanya wilayah pertambangan rakyat perlu ditawarkan sebagai pilihan solusi bagi masyarakat, dengan tetap memastikan

TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Hendrikus Adam, Kepala Divisi Kajian dan Kampanye WALHI Kalbar saat memaparkan hasil pemantauan sekat kanal di lahan gambut Kalbar, Senin 18 Juli 2022. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Kepala Divisi Kajian dan Kampanye WALHI Kalbar Hendrikus Adam menilai insiden tanah longsor yang terjadi di lokasi PETI pertambangan liar jadi moment untuk melakukan penataan dan penindakan praktik pertambangan liar. 

"Peristiwa kecelakaan yang kerap terulang pada wilayah pertambangan selama ini mestinya dapat menjadi momentum untuk melakukan evaluasi dan langkah serius untuk melakukan penataan dan penertiban praktik penambangan yang berpotensi menyebabkan kerusakan maupun sejumlah dampak buruk lainnya, " kata Hendrikus Adam saat dikonfirmasi pada hari Minggu, 18 September 2022.

Menurutnya untuk memastikan adanya wilayah pertambangan rakyat perlu ditawarkan sebagai pilihan solusi bagi masyarakat, dengan tetap memastikan pembatasan perluasan ekstraksi pada wilayah-wilayah penting/lindung untuk tidak dieksploitasi.

Dandim Singkawang Pastikan Yudianto Warga Landak Tidak Menjadi Korban Tanah Longsor di Bengkayang

"Ketidakjelasan pengaturan mengenai wilayah mana yang diperuntukan dan tidak akan tetap melahirkan dilema dan ketidakpastian. Karenanya, pemerintah perlu hadir memberikan keamanan, kenyamanan maupun perlindungan bagi lingkungan hidup," ujarnya. 

Adam juga mengatakan upaya pemerintah melalui aparatur dalam penindakan praktik pertambangan liar kurang serius. 

"Dalam hal ini upaya pemerintah melalui aparaturnya untuk melakukan penataan maupun penindakan praktik pertambangan liar selama ini sepertinya kurang serius," tegasnya. 

Adapun praktik pertambangan tanpa izin kerap menjadi penyebab rusaknya wilayah sekitar akibat ekstraksi SDM. 

"Rusaknya wilayah sekitar akibat ekstraksi sumberdaya alam melalui praktik pertambangan yang dilakukan di lokasi kejadi telah menyebabkan ekosistem sekitar harusnya menjadi penyangga mengalami kerusakan yang berbuah bencana ekologis longsor, "jelasnya. 

Adam juga menambahkan, praktik ekstraksi sumberdaya alam dan lingkungan sekitar wilayah hidup komunitas melalui penambangan emas di Kalimantan Barat yang berimbas pada risiko kerusakan, longsor, pencemaran hingga terrenggutnya nyawa pekerja bukan hal asing selama ini. 

"Termasuk longsor yang menimpa puluhan pekerja yang menjadi korban pada Kamis (15/9/2022) kemarin. Turut berdukacita dan prihatin atas kejadian tersebut," katanya.

"Peristiwa tragis akibat penambangan yang kerap terjadi hingga terrenggutnya nyawa seolah tidak menjadi pembelajaran pihak terkait maupun para pekerja tambang selama ini. Terlebih bahwa pembukaan lahan berbukit dengan kemiringannya yang ekstrim jelas berbahaya karena berpotensi menyebabkan bencana ekologis," tutupnya. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved