Breaking News

Inflasi di Sintang Tinggi, Yustinus Dorong Masyarakat Manfaatkan Pekarangan Rumah

Pemerintah Kabupaten Sintang sudah dan akan berupaya untuk menekan laju inflasi. Mulai dari sidak ketersediaan sembako di pasar melihat kebutuhan pang

Tayang:
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/AGUS PUJIANTO
Marjan pedagang sayur di pasar junjung buih melayani pembeli. Kenaikan harga BBM mulai dirasakan oleh para pedagang. Mau tak mau, mereka ikut mekanisme pasar. Ketika harga beli naik, mereka juga menaikkan harga jual ke konsumen. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, masuk dalam 10 besar kabupaten/kota yang mengalami inflasi tertinggi di Indonesia. Kabupaten yang berada di Timur Kalbar ini menyumbang laju inflasi sebesar 7,4 persen.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Sintang, Yustinus menyebut ada banyak faktor yang menyebabkan inflasi tinggi di Kabupaten Sintang. Selain karena kenaikan harga BBM, tapi juga imbas lesunya harga TBS sawit.

"Faktor menyebabkan inflasi tinggi saya lihat faktor alam juga, perubahan iklim, kemudian pengaruh kenaikan harga BBM juga. Kemudian turunnya harga sawit juga berpengaruh ini ke inflasi," kata Yustinus, Rabu 14 September 2022.

Pemerintah Kabupaten Sintang sudah dan akan berupaya untuk menekan laju inflasi. Mulai dari sidak ketersediaan sembako di pasar melihat kebutuhan pangan terutama sembako, sayur, lauk dan sebagainya.

Cerita Pedagang Ayam di Pasar Junjung Buih Sintang, Harga Naik Sepi Pembeli

"Jika kurang kita bisa melakukan kerjasama dengan daerah lain. Itu salah satu strategi kita," jelasnya.

Kemudian kita juga berusaha setiap minggu evaluasi melihat stok ketersediaan pangan, jangan sampai kita mengalami keterbatasan.

Yustinus mendorong masyarakat produktif memanfaatkan lahan pekarangan untuk mengembangkan tanaman pangan untuk pengendalian inflasi.

"Kita berharap inflasi kita cepat turun karena memang yang disampaikan beberapa waktu lalu itu situasi bulan agustus, sekarang sebenarnya sudah turun 5 sekian persen. Tentu kita mengimbau pada masyarakat jangan sampai inflasi kita tinggi, kita terus mendorong masyarakat untuk produktif, melakukan kegiatan penanaman sayuran di pekarangan, kemudian memanfaatkan pekarangan menanam kebutuhan sayur mayu," ujar Yustinus. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved