Pemilu 2024

Tahapan Pemilu 2024, Bawaslu RI Mengajak Mahasiswa Sukseskan Pemilu Tanpa Hoaks!

Salah satu caranya dengan mencegah penyebaran berita bohong atau hoaks, politik SARA, politik uang hingga penyalahgunaan anggaran.

(Kompas.com/Fitria Chusna Farisa)
Komisioner Bawaslu Rahmat Bagja-Dalam rangka mencegah persoalan-persoalan tersebut, kaum muda yang masuk sebagai pemilih dengan jumlah besar dan sebagai kalangan yang melek teknologi memiliki peran yang sangat strategis. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Badan Pengawas Pemilihan Umum ( Bawaslu ) Republik Indonesia mengajak, para mahasiswa untuk menyukseskan Pemilu 2024 dengan cara mengindari penyebaran berita bohong dari media sosial.

Pencegahan terhadap Hoaks menurut Bawaslu harus dimulai dari kaum muda sebagai pemilih yang kini kini menguasai teknologi.

Dalam rangka mencegah persoalan-persoalan tersebut, kaum muda yang masuk sebagai pemilih dengan jumlah besar dan sebagai kalangan yang melek teknologi memiliki peran yang sangat strategis.

"Kaum muda perlu terlibat dalam menyukseskan pemilu dengan terjun langsung dalam momen krusial," kata Ketua Bawaslu, Ujar Ketua Bawaslu Rahmat Bagja.

Pernyataan ini disampaikan ketika Rahmat Bagja diundang sebagai narasumber dalam seminar mahasiswa Universitas Ganesha Singaraja di Kabupaten Buleleng, BALI. Senin 12 September 2022. 

"Adapun proyeksi jumlah pemilih muda pada Pemilu 2024 sekitar 53,6 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan 2019 sebesar 35-40 persen. Jadi mahasiswa yang representasi anak muda itu memiliki peranan penting," Tambahnya.

Tahapan Pemilu 2024, Bawaslu Putuskan Tujuh Parpol Tidak Ikut Pemilu Serentak 2024!

Pada Kesempatan itu Bagja kemudian menyampaikan beberapa hal terkait peluang terjadinya hoaks pada moment-moment dalam tahapan Pemilu, oleh sebab itu dia mengajak mahasiswa untuk selalu memantau jika terjadinya Hoaks dan pelanggaran pemilu lainnya.

Tidak hanya memantau, Bagja juga mengharapkan jika mahasiswa dapat melaporkan jika pelanggaran tersebut terjadi.

Hoaks bisa saja terjadi saat momen pencalonan, kaum muda dapat mengambil peran dalam proses kandidasi calon peserta pemilu dan pemilihan.

Kedua, pada momen kampanye, dapat melaporkan adanya politik uang dan politisasi SARA melalui media sosial maupun mendorong para kandidat menawarkan visi, misi, dan program kerja yang perspektif anak muda.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved