Beredar SMS Penipuan Mengatasnamakan BRI, Nasabah Diimbau Waspada dan Jaga Data Pribadi

BRI menegaskan bahwa pesan singkat tersebut bukan berasal dari pihaknya dan informasi yang disampaikan di dalamnya tidak benar.

Penulis: Rindu P. Hestya | Editor: Wandha Nur Hidayat
BRI
Pihak BRI memastikan bahwa pesan singkat tersebut bukan berasal dari BRI sehingga informasi di dalamnya tidak benar. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID  - Masyarakat diresahkan dengan penipuan yang mengatasnamankan bank. Penipuan dilakukan melalui pesan singkat atau short message service (SMS) yang berisi informasi perubahan tarif transaksi menjadi Rp 150.000 per bulan dan meminta korban mengisi data pribadi melalui situs web yang dikirimkan.

SMS tersebut berasal dari nomor yang tidak dikenal. Pengirimnya mengaku sebagai perwakilan dari sejumlah bank, termasuk perwakilan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) atau BRI.

Menanggapi kasus penipuan tersebut, Corporate Secretary BRI Aestika Oryza Gunarto menegaskan bahwa SMS tersebut bukan berasal dari BRI dan informasi yang disampaikan di dalamnya tidak benar.

Untuk mencegah terjadinya pencurian dan penyalahgunaan data pribadi dan data perbankan, Aestika mengimbau nasabah untuk waspada dan tidak memberikan data pribadi atau informasi lainnya kepada sumber tidak resmi.

“BRI mengimbau seluruh nasabah untuk selalu waspada terhadap berbagai modus tindak kejahatan social engineering. Nasabah juga diimbau untuk menjaga kerahasiaan data pribadi dan data transaksi perbankan kepada pihak mana pun, termasuk yang mengatasnamakan BRI,” kata Aestika dalam siaran pers yang diterima Tribun Pontianak, Minggu (11/9/2022).

Lebih lanjut, Aestika juga mengingatkan nasabah agar tidak mengeklik link yang dikirimkan oleh pengirim SMS tersebut. Nasabah pun diimbau untuk tidak memberikan data pribadi dan data perbankan apa pun secara lisan apabila pelaku melakukan aksinya melalui sambungan telepon.

Sebagai informasi, social engineering merupakan tindak kejahatan yang memanipulasi psikologis korban untuk membocorkan data pribadi dan data transaksi perbankan korban. Media yang digunakan pelaku untuk mendekati korban pun beragam, mulai dari telepon, SMS, email, dan media sosial.

Adapun data perbankan yang perlu dijaga oleh nasabah meliputi nomor rekening, nomor kartu, personal identification number (PIN), username dan password digital banking, serta one-time password (OTP).

“Apabila mendapat notifikasi melalui SMS atau email atas transaksi yang tidak dilakukan, nasabah dapat segera menghubungi pihak BRI di nomor 14017 atau 1500017 untuk melakukan disable atau pemblokiran kartu anjungan tunai mandiri (ATM),” ujar Aestika.

Aestika menegaskan bahwa seluruh informasi mengenai layanan BRI hanya disampaikan kepada nasabah melalui saluran komunikasi resmi BRI, seperti situs web www.bri.co.id. 

Informasi juga disampaikan melalui akun media sosial BRI bercentang biru atau verified, yaitu Instagram @bankbri_id, lalu Twitter @BANKBRI_ID, @kontakBRI, dan @promo_BRI, TikTok Bank BRI, Facebook Bank BRI, dan akun YouTube Bank BRI.

Saat ini, BRI terus berkoordinasi dan bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk melakukan penanganan kasus penipuan dengan modus social engineering dan menindak para pelakunya.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved