BBM Subsidi Naik
Pengamat Ekonomi Untan Nella Yantiana Sebut Muncul Multiplier Effect Dari Kenaikan Harga BBM
Dampak kenaikan BBM yang dapat memicu inflasi diantaranya naiknya harga makanan dan minuman serta tarif transportasi, yang nantinya dapat melemahkan d
Penulis: Tri Pandito Wibowo | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Terjadinya kenaikan harga BBM per tanggal 3 September 2022 sebagai akibat dari pengurangan anggaran subsidi BBM oleh pemerintah akan mengakibatkan tingginya harga barang dan jasa.
Multiplier effect dari kenaikan BBM ini yaitu kenaikan harga barang dan jasa yang sangat bergantung dari biaya produksi, apabila terjadi kenaikan BBM maka biaya produksi juga akan meningkat dan akhirnya menciptakan kenaikan harga barang dan jasa.
Kenaikan harga BBM akan mengakibatkan kenaikan inflasi, hal ini ironis dengan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksi oleh Bank Indonesia pada semester II 2022 adalah kisaran sebesar 4,5 persen-5,3 persen.
Sementara inflasi saat ini sudah mencapai 4,69 persen, dan akan diprediksi terus meningkat sejalan dengan peningkatan harga BBM. Proyeksi pertumbuhan ekonomi akan mengalami koreksi dikarenakan terjadinya kenaikan BBM pada triwulan ketiga 2022.
Dampak kenaikan BBM yang dapat memicu inflasi diantaranya naiknya harga makanan dan minuman serta tarif transportasi, yang nantinya dapat melemahkan daya beli masyarakat. Hal inilah yang dapat menggerogoti pertumbuhan ekonomi.
• Harga BBM Naik, Eddy Suratman: Devisit APBN 3 Tahun Terakhir Tinggi dan Harga Minyak Dunia Naik
Masyarakat kelas menengah kebawah serta pelaku usaha yang paling merasakan dampak dari kenaikan BBM ini. Indonesia masih dalam tahap pemulihan dari pandemic Covid 19, perlu pengawalan dari pemerintah secara ketat terhadap operasi pasar.
Namun kini beban masyarakat semakin bertambah dikarenakan adanya kenaikan BBM yang akan menyebabkan naiknya harga kebutuhan sehari-hari, juga bagi dunia industri akan terbebani dengan tingginya biaya produksi.
Kebijakan kenaikan harga BBM yang disebabkan oleh pengurangan subsidi yang bertujuan agar tidak membebani APBN, yaitu yang mencapai besaran 502,4 triliun.
Akibat dari tingginya konsumsi BBM, pemerintah harus menyediakan dana subsidi yang besar, sementara harga keekonomian untuk pertalite, pertamax dan solar masih jauh diatas harga jual saat ini.
Pemerintah harus mencari strategi alternatif agar subsidi kepada masyarakat tepat sasaran dan mencarikan strategi alternatif agar masyarakat tidak tertekan oleh inflasi.
Saya tidak setuju dengan langkah kenaikan BBM, semestinya kenaikan (pengurangan subsidi bertahap) misal pertamax dulu, menyusul pertalite dan solar.
Sekarang kan sedang dilakukan tahap demi tahap misalnya dengan diberlakukannya digitalisasi di SPBU milik PT Pertamina melalui my pertamina yang saat ini masih dispesialisasikan kepada masyarakat.
Nanti dari hasil data konsumen akan terlihat konsumen yang berhak menerima BBM bersubsidi dengan mendaftarkan plat kendaraannya melalui aplikasi tersebut, jika berhak maka pendaftar akan menerima QR Code yang dapat digunakan untuk membeli BBM.
Perlu diperkuat sinergi antara pusat dan daerah untuk menjaga stabilitas harga dan meningkatkan ketahanan pangan melalui Rapat Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat maupun Daerah (TPIP dan TPID) serta melakukan akselerasi pelaksanaan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). (*)
Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News