Lokal Populer

Daya Dukung Lingkungan Singkawang Sudah Mulai Rusak Hingga Terdegradasi Parah

Singkawang merupakan daerah lembah yang dikelilingi perbukitan dan laut yang jaraknya tak begitu jauh sehingga tata ruang kota perlu di perhatikan

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Rizki Kurnia
Sejumlah warga melintasi banjir di jalan dr Soetomo Singkawang, Kalimantan Barat, Minggu 28 Agustus 2022. BMKG mengingatkan potensi hujan lebat kembali terjadi di Singkawang pada Selasa 30 Agustus 2022. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Direktur Teraju Indonesia, Agus Sutomo mengatakan daya dukung lingkungan Singkawang sudah mulai rusak hingga terdegradasi parah, sehingga menjadi daerah rawan kebencanaan.

Agus menerangkan karena daerah Singkawang merupakan daerah lembah yang dikelilingi perbukitan dan laut yang jaraknya tak begitu jauh sehingga tata ruang kota perlu di perhatikan.

"Pemerintah kota, dalam hal ini perlu mendesain tata ruang kotanya itu mesti dengan memperhatikan aspek-aspek lingkungan, prioritas itu, "Katanya saat konfirmasi pada 28 Agustus 2022.

"Kemudian pembangunan di atas perbukitan itu juga bisa dihentikan, bukan karena wah itu tanah saya, saya yang beli atau semacamnya, tapi kemudian ketika itu di ekploitasi maka itu dampaknya ke semua orang, tidak hanya si pemilik lahan, tapi kepada semua masyarakat sekitar," tegasnya.

Pemkot Singkawang Antisipasi Banjir Susulan, BMKG Sebut Singkawang Belum Aman Dari Banjir

Agus juga berharap ketika adanya kepengurusan ijin dengan mengeluarkan IMB harus memastikan bahwa daerah tersebut merupakan daerah-daerah yang tidak menjadi bagian rawan kebencanaan.

"Di Singkawang juga daerah resapan airnya sudah berubah fungsi, sudah menjadi bangunan-bangunan yang begitu menumpuk, " katanya.

Ia juga menjelaskan beberapa daerah resapan yang berubah fungsinya menjadi daerah bangunan.

"Seperti yang kita kenal pada pasar baru itu kan daerah resapan, yang aliran sungainya sampai ke roban sebenarnya, ketika daerah itu dibangun menjadi pasar tiba-tiba Singkawang banjir bandang dalam setahun bisa dua kali, padahal dulunya frekuensi bencana dalam setahun hanya sekali, "katanya.

"Kemudian dijalan Kalimantan, yang dekat PDAM itu juga dulunya daerah resapan air, ketika hujan deras air akan menumpuk disitu dan itu yang membuat kemudian banjir di Singkawang cepat surut, " Tambahnya.

Dengan adanya kejadian banjir tersebut, ia mengatakan ini merupakan peringatan untuk pemerintah untuk segera melakukan evaluasi atas kebencanaan tersebut.

"Mungkin kejadian yang terjadi saat ini hanya pertanda saja atau warning, kejadian banjir bandang dan longsor kemarin, itu warning untuk pemerintah kota segera mengevaluasi kemudian melakukan penataan kotanya secara keseluruhan dengan kajian-kajian lingkungan yang kuat, " katanya.

Sementara itu ia juga mengatakan pemerintah bisa memperhatikan dampak yang akan terjadi jika Singkawang hanya dijadikan kota jasa dan hanya memperhatikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) saja.

"Kita jangan berfikir pendapatan daerahnya saja, misalnya PAD nya dapat 50 milyar tapi pengeluaran akibat dari serampangnya izin-izin untuk pembangunan tersebut mengakibatkan terjadi banjir dan segala macam, ujung-ujungnya juga akan mengeluarkan anggaran lebih dari 50 milyar, untuk memperbaiki segala infrastruktur yang rusak, untuk memberi makan pangan dan kesehatan yang terdampak, "katanya.

"Sama halnya seperti yang terjadi pada rumah sakit Abdul Aziz, kalau terendamnya parah, ada peralatan yang rusak dengan harga ratusan juta misalnya itu bagaimana?, "tambahnya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved