Puluhan Petani di Sintang Dilatih Penggunaan Herbisida Terbatas yang Aman dan Efektif
Pelatihan yang digelar sehari di Aula CU Keling Kumang ini, menitikberatkan pada pemahaman label, pelindung diri hingga prosedur pencegahan keracunan
Penulis: Agus Pujianto | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,SINTANG - Aliansi Stewardship Herbisida Terbatas (ALISHTER) membekali 90 petani di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, tentang penggunaan herbisida terbatas yang aman dan efektif agar terhindar dari dampak negatif pada tubuh dan lingkungan.
Pelatihan yang digelar sehari di Aula CU Keling Kumang ini, menitikberatkan pada pemahaman label, pelindung diri hingga prosedur pencegahan keracunan dan pertolongan darurat.
"Pelatihan ini fokus kita untuk memberikan ilmu kepada petani, khususnya pengguna pestisida Parakuat Diklorida. Kami juga mempunyai tanggungjawab memberikan informasi terkait dengan penyemprotan yang aman dan efektif. Tujuannya untuk meminimalkan dampak negatif penggunaan pestisida ini terhadap petani dan juga lingkungan sekitar," kataBagus Fajar Fadilah, perwakilan Alishter Jakarta, Kamis 21 Juli 2022.
Baca juga: Julina Harap Aku Hatinya PKK Kabupaten Mempawah Selalu Menjadi yang Terbaik
Bagus melihat, para petani yang menggunakan pestisida belum sesuai aturan. Terkadang, penggunaanya berlebihan dan mengesampingkan aturan pakai. "Terkadang ada yang berlebihan, jadi semua alangkah baiknya jika sesuai dosis," jelasnya.
Menurut Bagus, penggunaan pestisida yang baik dan benar adalah sesuai takaran, mengenakan pelindung diri dan membaca label. Selama ini, banyak dijumpai petani mengabaikan membaca label penggunaan, dan tidak mengenakan pelindung diri seperti masker, sarung tangan.
"Kebanyakan petani itu merasa panas, gerah jadi tidak gunakan APD, tapi dengan APD minimal seperti menggunakan baju lengan panjang celana panjang sepatu boot, sarung tangan, ataupun masker itu sudah minimal. Kesalahan umum, selama ini tentunya APD, itu biasanya petani masih mengesampingkan, ada yang pakai baju lengan pendek, kemudian tidak membaca lebel," beber Bagus.
Penggunaan pestisida berlebihan yang tidak sesuai dengan ketentuan akan berdampak negatif pada tubuh dan lingkungan.
"Dampaknya gak langsung. ada tiga dampak negatif, mulai sedang, ringan dan fatal. Kalau kita menggunakanya tidak dalam penggunaan normal, pasti akan berdampak serius," ujarnya
"Di pelatihan ini ada materi penyemprotan yang aman dan efektif. Harapannya kedepan petani bisa memahami agar bisa menggunakan pestisida sesuai dengan takaran dan sesusi dengan anjuran penggunaan," harapnya.
Muntoha Arifin, Petani sayur yang sudah 20 tahun menggeluti dunia pertanian ini mengaku bersyukur dapat pelatihan penggunaan herbisida terbatas yang aman dan efektif agar terhindar dari dampak negatif pada tubuh dan lingkungan.
Selama ini, Toha mengesampingkan alat pelindung diri ketika menyemprot tanaman. Bahkan, dia pernah terpapar racun dan diopname selama 5 bari di rumah sakit.
"Alhamdulillah banyak ilmu baru. Untung kami bisa mengikuti pelatihan ini. Dulu kami pernah keracunan sampai opname 5 hari karena tidak pakai masker, alat pelindung diri. Setelah ada pelatihan jadi paham, akan saya terapkan. Selama ini ndak pakai masker, APD itu oengap, tpi karena rentan penyakit, ya terpaksa dipakai nanti," ujar Toha. (*)
Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/pontianak/foto/bank/originals/Aliansi-Stewardship-Herbisida-Terbatas-sdf-sdf-sdfsd.jpg)