Pengunjung Sepi! PKL Kawasan Kuliner Pasar Raya Sintang Ngadu ke DPRD Menuntut Balik ke Kopel

Para PKL mengeluhkan sepinya pengunjung sejak direlokasi ke kawasan pasar raya sintang. Akibatnya, omset PKl turun drastis dibanding berdagang

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/Agus Pujianto
Puluhan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang baru direlokasi ke Pasar Raya Sintang mengadu ke DPRD Sintang, Selasa 19 Juli 2022. Mereka menuntut agar bisa kembali berdagang di kawasan taman bungur (Kopel) depan pendopo bupati. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SINTANG - Puluhan Pedagang kaki lima (PKL) yang baru direlokasi ke Pasar Raya Sintang mengadu ke DPRD Sintang, Selasa 19 Juli 2022. Mereka menuntut agar bisa kembali berdagang di kawasan Taman Bungur (Kopel) depan pendopo bupati.

Tuntutan itu disampaikan langsung kepada wakil rakyat di ruang paripurna yang diterima langsung oleh Ketua DPRD Kabupaten Sintant, Florensius Ronny didampingi wakil ketua dan sejumlah anggota komisi.

Para PKL mengeluhkan sepinya pengunjung sejak direlokasi ke kawasan pasar raya sintang. Akibatnya, omset PKl turun drastis dibanding berdagang di kawasan taman bungur (kopel).

Baca juga: Seorang Pengendara Motor Meninggal Dunia Usai Menabrak Truk Sawit yang Ngerem Mendadak di Sambas

"Jauh sekali. Pendapatan turun drastis, jangankan balik modal yang ada rugi. Selalu rugi," kata Nuriyandi Syafari Ketua Aliansi PKL Bersatu.

PKL yang ngadu ke DPRD tersebut, belum genap satu bulan berjualan di kawasan pasar raya sintang. Keputusan pemerintah merelokasi PKL dari kawasan Taman Bungur dan depan eks RSUD Ade M Djoen Sintang itu lantaran akan ada pembangunan waterfront.

Sayangnya, kawasan pasar raya sintang sepi, tapi seperti di taman bungur. Janji pemerintah yang akan menarik pengunjung agar datang ke pasar yang sudah ditetapkan sebagai pusat kuliner belum dilakukan.

"Di tempat lama nyari 100 ribu gampang sekali, tapi kalau di tempat yang baru direlokasi sangat sepi sekali. Kendala tempat baru itu, hanya orang dari nanga mau. Kalau di kopel banyak pengunjung, bukan hanya dari sintang, dari luar pun banyak karena ada banyak tempat santai. Kalau tempat baru, bisa dihitung jari pengunjunynya," ujarnya.

"Saya punya bukti. Satu PKL ndak sampai 10 pengunjung, malam minggu pun sepi, dan waktu awal rapat dengan disperindag katanya mau buat keramaian untuk narik pengunjung, tapi tidak ada. Kita dilepas begitu saja, ditaruh begitu saja," sesal Riyan.

Para PKL kata Riyan hanya menuntut agar Pemkab Sintang mengizinkan kembali berjualan ke Kopel sebelum pembangunan waterfront dimulai. Apabila pekerjaan sudah dimulai, PKl siap pindah sementara sampai fasilitas publik tersebut selesai dibangun.

"Kita kan punya anak istri, perlu buat makan, buat bayar angsuran di bank, itu tidak ada sama sekali. Awalnya katanya mau ada hiburan, tapi penerangan saja kurang. Tuntutan kami hanya ingin bisa kembali berjualan di kopel," jelas Riyan. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved