Aktivis Perempuan Muda NU, Putriana: Idealnya Ketua PWNU Kalbar Mendatang Lebih Peka Pada Perempuan

Setelah diwawancara Tribun Pontianak Rabu 13 Juli 2022, Putriana mengungkapkan, ketua PWNU Kalbar selain harus mengakomodir perempuan dalam kepengurus

Penulis: Muhammad Rokib | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/MUHAMMAD ROKIB
Aktivis Perempuan muda NU Kalbar, Putriana. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Aktivis Perempuan muda NU Kalbar, Putriana berharap agar ketua PWNU Kalbar yang terpilih pada Konferwil VIII nanti bisa lebih peka terhadap kaum perempuan.

Sebelumnya telah diberitakan tentang LTN PWNU Kalbar yang menghadirkan kegiatan Webinar Series 1 Pra Konferwil NU Kalbar ke-8 dengan tema "Narasi Kecil untuk Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat".

Dalam Webinar Series 1 yang berlangsung pada Senin 20 Juni 2022 kemarin terdapat empat narasumber dan salah satunya ialah Putriana selaku Aktivis Perempuan muda NU Kalbar.

Putriana menyampaikan tentang pentingnya keterlibatan perempuan Nahdliyyin di kepengurusan NU Kalbar mendatang. Menurutnya selama ini di PWNU Kalbar belum pernah melibatkan perempuan dalam strukturalnya. Padahal di PBNU sendiri sudah memulai menempatkan perempuan sejak tahun 1960.

Setelah diwawancara Tribun Pontianak Rabu 13 Juli 2022, Putriana mengungkapkan, ketua PWNU Kalbar selain harus mengakomodir perempuan dalam kepengurusan, idealnya Ketua PWNU Kalbar lebih peka terhadap perempuan.

SMK SMTI Pontianak Gelar Pembukaan MPLS Bersama 314 Peserta Didik Baru

"Peka di sini maksudnya selain mengakomodir perempuan dalam kepengurusan, Ketua PWNU Kalbar mendatang harus pula pro kesetaraan dan keadilan, menghargai perempuan serta tentunya setia kepada satu perempuan," ungkapnya.

Hal tersebut, karena sejalan dengan ghiroh atau semangat lahirnya Banom-banom organisasi perempuan di Tubuh NU itu sendiri sebagai Banom yang memperjuangkan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Sehingga sinkron dengan kecenderungan para pemikir kesetaraan yang banyak lahir dari kalangan Nahdliyyin seperti Kiyai Husein Muhammad, Nasaruddin Umar, Faqihuddin Abdul Qodir, Marzuki Wahid dan lain sebagainya.

Ia juga menambahkan, bahwa kepekaan terhadap perempuan ini menjadi penting, karena posisi ketua akan menjadi role model bagi kaum Nahdliyyin.

Kecenderungan NU di masa kini pun menurutnya yang semakin menghargai perempuan dengan menghadirkan 11 perempuan di struktur kepengurusan PBNU Periode 2022-2027 dan semakin banyaknya para pemikir atau penulis dari kalangan NU yang membicarakan akan pentingnya kesetaraan gender, menjadi sangat perlu ditiru oleh kaum NU, terutama yang berperan di posisi stategis seperti posisi ketua.

"Dan yang terpenting harus sesuai dengan ucapan dan perilakunya, misalnya mengaku setuju dengan kesetaraan dan keadilan, tapi nyatanya berperilaku tidak setia dengan satu perempuan, itu namanya tidak berintegritas," tukasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved