Jubir Demokrat Senggol Soal Jualan Slogan Pancasila dan Bhinekka Tunggal Ika Demi Elektoral

Begitu pula dengan pengangguran, 10 tahun pemerintahan SBY, pengangguran turun 3 jutaan. Era Jokowi 5 tahun pertama, hanya turun 140 ribuan.

TRIBUNPONTIANAK/RIDHO PANJI PRADANA
Edwin Jannerli Tanjung, SE, Koordinator Zona Kalimantan, Satgas Herzaky Mahendra Putra, S.Sos, MM Ketua Bidang Sistem Informasi dan Teknis, Satgas Pilkada 2020 DPP Partai Demokrat yang juga Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan DPP Partai Demokrat saat ditemui di Pontianak, Senin 2 November 2020. Herzaky angkat suara soal koalisi parpol untuk pemilu 2024 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Jubir Demorat, Herzaky Mahendra Putra menyenggol soal Slogan Pancasila dan Bhinekka Tunggal Ika Demi Elektoral.

Hal ini dikatakannya terkait dengan ada partai yang enggan berkoalisi dengan partai yang dipimpin Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tersebut.

Dikatan politisi asal Kalbar ini, Partai Demokrat sangat menghargai kemandirian, independensi, mekanisme internal, dan pilihan dari setiap partai dalam menentukan, ingin berkoalisi atau bekerja sama dengan partai mana di Pilpres 2024.

"Karena itu, kami juga berharap, independensi, kemandirian, mekanisme internal, dan pilihan kami dalam menentukan rekan koalisi atau kerja sama menuju 2024, dihormati dan dihargai pula," kata Herzaky dalam keterangan tertulisnya, Minggu 27 Juni 2022.

Herzaky berharap, tidak ada upaya tekanan-tekanan, paksaan, bahkan ancaman-ancaman.

Semisal upaya kriminalisasi atau gangguan terhadap bisnis kader-kader Partai Demokrat, maupun upaya perampasan kepemimpinan terhadap partai ataupun calon rekan koalisi.

Silang Pendapat Politisi PDI Perjuangan Soal Koalisi, Satu Diantaranya Terancam Dapat Sanksi

Herzaky Mahendra Putra saat berfoto dengan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Herzaky kini adalah Jubir Partai Demokrat
Herzaky Mahendra Putra saat berfoto dengan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Herzaky kini adalah Jubir Partai Demokrat (TRIBUN PONTIANAK/Istimewa/Herzaky)

Ia juga sangat menghargai, setiap parpol punya prioritas dan platform berbeda ketika memegang pemerintahan.

Herzaky menyebut, rakyat pernah merasakan pemerintahan era Presiden Megawati, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat ini.

Ia pun menyebut, bahwa prioritas era Presiden SBY sangat jelas untuk kepentingan rakyat.

Herzaky pun menyinggung situasi saat ini, justru rakyat harus antri minyak goreng dan menghadapi kenaikan harga bahan sembako.

"Kalau era Demokrat yang memimpin, ketika Pak SBY menjadi presiden di tahun 2004-2014, prioritas kami jelas. Bela rakyat kecil, perjuangkan hak-hak dan aspirasi rakyat. Rakyat tidak perlu antri minyak goreng. Harga sembako juga terjangkau dan stabil, tidak naik drastis seperti situasi yang rakyat hadapi enam bulan ini," ucap Herzaky.

"Kemiskinan turun drastis, penduduk miskin berkurang hampir 9 juta. Pemerintahan SBY diwarisi 36 jutaan penduduk miskin dari Presiden Megawati. Setelah sepuluh tahun memimpin, SBY mewariskan tinggal 27 jutaan penduduk miskin ke pemerintahan Jokowi. Ada pengurangan sangat signifikan," jelasnya.

Sedangkan, lanjut Herzaky, lima tahun era Presiden Jokowi memimpin, angkanya berkisar 24-26 juta.

Dimana, hampir tidak ada pengurangan dari era SBY.

Kode Partai Demokrat Gabung Koalisi Semut Merah, Jubir: Ada Kesamaan Platform, Visi dan Cara Pandang

Ketum NasDem Surya Paloh dan Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat saling bersalaman dan berpelukan di NasDem Tower, Kamis 23 Juni 2022. Demokrat sedang menjalin komunikasi untk koalisi
Ketum NasDem Surya Paloh dan Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) saat saling bersalaman dan berpelukan di NasDem Tower, Kamis 23 Juni 2022. Demokrat sedang menjalin komunikasi untk koalisi (Instagram @agusyudhoyono dan @pdemokrat)
Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved