Petani Sawit di Paloh Keluhkan Harga Sawit Anjlok, Sebuk Tak Seimbang dengan Kelangkaan Pupuk

Satu diantara petani sawit adalah Diva Arnindi. Dia mengatakan turunnya harga sawit tidak seimbang dengan kelangkaan pupuk dan mahalnya pupuk di pasar

Penulis: Imam Maksum | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Istimewa/Diva
Diva Arnindi, petani sawit dan tokoh pemuda di Kecamatan Paloh, Sambas, Kalimantan Barat saat menaikan TBS ke mobil pekap. Istimewa/Diva 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Beberapa petani sawit di Kabupaten Sambas kembali menelan pil pahit. Petani kembali mengeluhkan kondisi turunnya harga sawit saat ini, Jumat 24 Juni 2022.

Satu diantara petani sawit adalah Diva Arnindi. Dia mengatakan turunnya harga sawit tidak seimbang dengan kelangkaan pupuk dan mahalnya pupuk di pasaran.

Diva Arnindi merupakan petani sawit asal Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Menurutnya dilema bagi petani sawit saat ini ketika baru beberapa minggu kami mendapat harga yang baik tetapi untuk saat ini kembali mendapat kabar harga sawit anjlok.

"Saat ini kami sebagai petani sawit merasa dilema sekali, karena harga sawit kembali turun, dan turunnya sangat drastis sekali, baru beberapa minggu sebelumnya kami mendapat harga yang baik, tetapi sekarang sudah turun lagi," ujar Diva Arnindi.

Cakupan BIAN di Kabupaten Sambas Capai 91,8 Persen, Uray Hendy Sebut Posisi Tertinggi di Kalbar

Dia mengungkapkan, turunnya harga sawit juga tidak seimbang dengan mahalnya harga pupuk. Bukan hanya mahal melainkan pupuk juga langka. Dia berujar kondisi itu membuat sedih bagi petani sawit.

"Harga sawit turun tidak seimbang dengan mahalnya pupuk dan susahnya untuk mendapatkan pupuk, dengan masalah tersebut maka petani sawit saat ini sangat-sangat sedih, dan tidak ada pendapatan bagi kami saat ini," ungkapnya.

Dia menyebutkan, harga tandan buah segar (TBS) di kalangan petani sawit di tempat ia tinggal berkisar Rp 800 hingga Rp 1000 per kilogram.

"Untuk harga di kalangan petani saat ini hanya kisaran Rp800- Rp1000. Untuk saat ini harga agen ambil di kalangan petani hanya kisaran 800-1000 Rupiah, dan itu pun kadang susah juga mau dijual, sehingga tidak sedikit buah petani sawit yang busuk, dikarenakan menunggu naiknya harga sawit," katanya.

Dia merupakan petani sawit dan juga tokoh pemuda di Kecamatan Paloh yang memiliki luas kebun sawit seluas 2 hektar. Bahkan, ujar dia, sawit yang ia tanam sudah berusia 9 tahun.

Dia pun berharap kepada pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat untuk mencarikan solusi yang terbaik buat petani sawit saat ini.

"Sampai kapan petani sawit harus seperti ini, dan berharap juga harga beli sawit bisa normal kembali," harapnya. (*)

Cek Berita dan Artikel Mudah Diakses di Google News

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved