Amerika Serikat Terancam Badai Krisis Ekonomi , Menkeu AS Janet Yellen Pasrah | Harga Gas Naik !

Saham di bursa Wall Street jatuh setelah bank sentral AS pada Rabu 15 Juni 202 pekan lalu menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin.

Editor: Ishak
LEIGH VOGEL / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / GETTY IMAGES VIA AFP
Menkeu Amerika Serikat berbicara dalam forum The New York Times DealBook / DC policy forum 9 Juni 2022 lalu. Badai Krisis Ekonomi yang menerpa negeri Paman Sam membuat Menkeu AS pasrah . 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Amerika Serikat di ambang Krisis Ekonomi .

Terpaan badai Krisis Ekonomi yang mengancam Negeri Paman Sam - julukan Amerika Serikat - membuat Menteri Keuangan Amerika Serikat atau Menkeu AS Janet Yellen ‘pasrah’.

Terbaru, bank sentral Amerika Serikat , Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga perbankan .

Naiknya suku bungan perbankan itu diperkirakana akan membuat Resesi Ekonomi di Amerika Serikat tidak terhindarkan.

The Fed Naikkan Suku Bunga , Risiko Gagal Bayar Kredit Perbankan di Amerika Serikat Melonjak!

Terkait hal itu, Menkeu AS Janet Yellen mengatakan pada Minggu 19 Juni 2022 , hanya beberapa hari setelah The Fed menaikkan suku bunga, meningkatkan kekhawatiran kontraksi ekonomi.

"Saya memperkirakan ekonomi akan melambat karena transisi ke pertumbuhan yang stabil," katanya di program This Week ABC, seperti dikutip Channel News Asia,”

"Saya tidak berpikir resesi sama sekali tak terelakkan" ujarnya pasrah.

2023 , Krisis Ekonomi Diperkirakan Hantam Amerika Serikat ! Pasar Saham dan Crypto Berjatuhan

Ekonomi AS sejatinya telah pulih dengan kuat dari kerusakan yang pandemi Covid-19 timbulkan.

Tetapi, lonjakan inflasi dan gangguan rantai pasok yang diperburuk perang di Ukraina telah meningkatkan pesimisme.

Saham di bursa Wall Street jatuh setelah bank sentral AS pada Rabu 15 Juni 202 pekan lalu menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin.

Itu menjadi kenaikan suku bunga perbankan paling tajam dalam hampir 30 tahun terakhir di Amerika Serikat .

Dan, para ekonom melihat tanda-tanda yang mengkhawatirkan bahwa kepercayaan konsumen melemah, dengan orang-orang mulai menunda rencana liburan, makan di luar rumah, atau melakukan perbaikan rumah.

Yellen mengakui, "jelas inflasi sangat tinggi", sebagian disebabkan perang di Ukraina, yang telah mendorong lonjakan harga energi dan pangan.

Namun, dia tidak percaya "penurunan belanja konsumen adalah kemungkinan penyebab resesi".

Halaman
12
Sumber: Kontan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved