Ketahui Perbedaan dan Gejala Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang Jadi Dalang Kasus Covid-19 Naik
Penyebab utama kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia diduga karena sebaran subvarian Omicron BA.4 dan BA.5.
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kasus Covid-19 di Indonesia kian meningkat beberapa hari belakangan ini.
Pada Rabu 15 Juni 2022, kasus Covid-19 di Indonesia tembus di angka 1.242 orang terinfeksi.
Penyebab utama kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia diduga karena sebaran subvarian Omicron BA.4 dan BA.5.
"Jadi kita confirm bahwa kenaikan ini memang dipicu oleh adanya varian baru dan ini juga yang terjadi sama di negara-negara di luar Indonesia yang mgkin hari raya keagamaannya berbeda-beda dengan kita. Jadi tiap kali ada varian baru itu (kasus) naik," kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, dikutip dari Kompas.com, 13 Juni 2022.
Lantas, banyak masyarakat yang belum tahu apa perbedaan subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 dengan subvarian sebelumnya?
• Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 Bisa Sebabkan Reinfeksi, Dokter Ingatkan Bahaya Pada Anak
Kenali gejala subvarian BA.4 dan BA.5 di sini:
Perbedaan subvarian BA.4 dan BA.5 dengan varian sebelumnya
Dikutip dari Kompas.com, Epidemiolog dari Griffith University Australia Dicky Budiman menjelaskan bahwa karakter subvarian BA.4 dan BA.5 berbeda dengan subvarian sebelumnya, terutama dengan BA.1.
“Khususnya BA.5 ini dia punya karakter yang merupakan kombinasi yangmana memiliki kecepatan lebih dari Omicron sebelumnya. Sehingga, mudah menginfeksi baik yang sudah vaksin ataupun belum,” ujar Dicky, saat dihubungi Kompas.com, Selasa 14 Juni 2022.
Dicky mengatakan bahwa BA.5 mengadopsi juga mutasi dari Delta L452 yang membuatnya mudah terikat di reseptor ACE 2 sehingga mudah masuk sel tubuh manusia.
“Riset terakhir di Jepang dan beberapa negara Eropa, BA.4 dan BA.5 kemampuan bereplikasinya di sel paru meningkat,” ujarnya.
• Waspada Kasus Covid-19 di Indonesia Melonjak Naik, Varian Omicron BA.4 dan BA.5 Jadi Biang Kerok
Berdasarkan studi di laboratorium tersebut, BA.4 dan BA.5 lebih fusogenik dan patogenik jika dibandingkan dengan BA.2.
“Artinya potensi keparahan lebih infeksius. Yang jelas potensi keparahan ada,” ungkap Dicky.
Selain itu, dari studi juga ditemukan bahwa angka reproduksi efektivitas BA.4 dan BA.5 1,2 lebih tinggi jika dibandingkan dengan BA.2 atau subvarian lain.
“Artinya lebih cepat penularannya atau transmisinya karena kalau sudah angka reproduksi lebih dari 1 artinya ada pertumbuhan eksponensial yang akan terjadi,” terangnya.