IDUL FITRI

Shalat Idul Fitri di Halaman Kantor Bupati Sanggau Berlangsung Khusuk 

H Akhamd Saukani mengajak umat muslim untuk mewujudkan kesalihan yang tidak hanya bersifat ritual saja, Tetapi kesalihan yang bersifat sosial.

Penulis: Hendri Chornelius | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/PHBI Sanggau.
Jamaah saat melaksanakan shalat Idul Fitri di Halaman Kantor Bupati Sanggau, Kalbar, Senin 2 Mei 2022. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU- Umat muslim di Kota Sanggau melaksanakan shalat idul fitri 1443 H yang digelar Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Sanggau di Halaman Kantor Bupati Sanggau, Kalbar, Senin 2 Mei 2022.

Sejak pukul 06.00 Wib jamaah mulai memadati halaman Kantor Bupati Sanggau, Shalat id berlangsung khusuk. Bertindak selaku imam shalat Id Bripka Suryansah dan khotib H Akhmad Saukani.

Dalam khutbahnya, H Akhamd Saukani mengajak umat muslim untuk mewujudkan kesalihan yang tidak hanya bersifat ritual saja, Tetapi kesalihan yang bersifat sosial.

Momen Idul Fitri 1443 H, Paolus Hadi Ajak Semua Masyarakat Bersama Memastikan Sanggau dan Bahagia

"Setelah sebulan penuh kita melaksanakan puasa ramadan.  pertanyaan, kesalihan apa yang sudah kita perbuat, Sehingga Allah SWT pantas meridhoi amal dan perbuatan kita,"katanya.

Ketua Umum PHBI Kabupaten Sanggau itu menjelaskan dalan islam, ada dua kesalihan yang harus dimiliki seorang muslim, baik kesalihan ritual yang bersifat individu dan kesalihan sosial. 

Lanjutnya, Agama mengajarkan sebagaimana Alquran surah Al baqarah ayat 208 yang artinya, Hai orang-orang yang beriman, masuklah kedalam agama islam secara kaffah dan janganlah mengikuti langkah Syaitan, Karena Syaitan adalah musuh yang nyata bagimu.

"Shalih yang dimaksud disini shalih secara individual atau ritual dan juga shalih secara sosial.  Karena ibadah sosial selain bertujuan mengabdikan diri kepada Allah SWT, Juga bertujuan membentuk kepribadian yang islami, yang memiliki dampak positif dalam kehidupan sosial atau hubungan sesama manusia," jelasnya.

Ia mengatakan, Kriteria keislaman seseorang tidak hanya diukur dari ibadah sosialnya. Seperti shalatnya puasanya, Tetapi juga dilihat dari nilai-nilai dan hubungan sosialnya dengan masyarakat.

Sehingga melahirkan rasa kasih sayang kepada sesama, menghargai hak orang lain, cinta kasih, penuh kesantunan, menjaga hubungan baik dengan orang lain, memberi dan mau membantu sesama.

"Seluruh ibadah ritual yang dilakukan dengan benar akan melahirkan kesalihan sosial, seperti shalat misalnya. bagaimana ia mencegah dari perbuatan keji dan mungkat. Suatu ketika Rasulullah mendengar seseorang rajin shalat dimalam hari dan puasa disiang hari, Tetapi lidahnya sering menyakit tetangganya. Apa komentar nabi tentang dia, Jawab nabi dia penghuni neraka. Naudzulbillahi mindzalik,"ujarnya.

Lanjutnya, Hal ini membuktikan, bahwa ibadah ritual tidaklah cukup, Harus dibarengi dengan ibadah sosial karena ia cenderung tidak mampu menjaga lisannya dari melukai hati dan perasaan orang lain. 

Kemudian, Dalam kisah lain pernah diceritakan bahwa salah seorang sahabat pernah memuji kesalihan sahabat yang lain.

"Nabi bertanya, mengapa ia kau sebut sholih, Sahabat pun menjawab setiap saya masuk Masjid dia sudah shalat dengan khusus. dan setiap saya pulang dia masih aja khusuk berdoa. Nabi bertanya lagi siapa yang memberinya makan dan minum sahabat menjawab kakaknya. Lalu kata Nabi, Kakaknya itulah yang layak disebut shalih,"pungkasnya.  (*)

[Update informasi Seputar Kabupaten Sanggau]

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved