Sungai Sepatah dan Sungai Retok Diduga Tercemar, Ikan Arwana Mati

Sebuah video berdurasi 2,19 menit viral, memperlihatkan seorang warga sedang mengambil sampel air di wilayah Desa Agak, Kecamatan Subangki.

Penulis: Stefanus Akim | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA
Aktivis Walhi Kalbar, Hendrikus Adam, menunjukkan ikan yang mati, Senin 18 April 2022. 

TRIBUNPONTIANAK, KUBU RAYA - Sejak Jumat, 15 April 2022 sejumlah warga di sepanjang Sungai Sepatah di kabupaten Landak dan Sungai Retok di Kubu Raya dihebohkan dengan matinya aneka jenis ikan, termasuk ikan arwana yang diduga karena pencemaran limbah pabrik sawit di daerah Landak.

Sebuah video berdurasi 2,19 menit viral, memperlihatkan seorang warga sedang mengambil sampel air di wilayah Desa Agak, Kecamatan Subangki, Kabupaten Landak yang meminta pihak perusahaan bertanggungjawab.

Selain itu dalam video warga tersebut juga meminta Pemerintah Desa, Kecamatan, Bupati, Gubernur hingga Presiden agar membantu warga atas dugaan pencemaran limbah di sungai.

Kapolres Kubu Raya, AKBP Jerrold HY Kumontoy Lakukan Vaksinasi Booster

Saat Kades Retok, Kades Agak beserta tim menelusuri sungai Ritok di Kubu Raya melewati Koala Mamparigang, Taluk Paten, Gadah, Bator hingga Sungai Sepatah di Kabupaten Landak pada Minggu 17 April 2022 sejumlah ikan yang mati tampak mengapung.

Adapun di antara ikan yang didapat yakni baung, tilan, tamparas dan ada pula ikan buntal.

Sahidin, Kades Retok mengungkap selain ikan yang disebutkan, juga ada beragam jenis ikan lainnya yang mati seperti tingadak, kilabo, tapah, siluk/arwana, (merah dan silver), odang, baukng tikus, belut, bintutu, jelawat, ringau, kaloi, lais, sengarat, banga, tabungalatn dan jenis ikan lainnya.

“Menurut Sahidin, pihaknya akan menyatakan sikap atas kejadian berulang tersebut.

“Kami minta agar ada solusi dari perusahaan untuk memastikan limbahnya tidak berbahaya. Karena warga Ritok dan sekitarnya tidak bisa menggunakan untuk mandi, cuci dan konsumsi. Masyarakat sangat dirugikan dan diantaranya ada yang kena diare” harap Sahidin.

Lebih lanjut, Sahidin menegaskan pihak perusahaan termasuk abai dengan kewajibannya, mestinya pengelolaan dan pendirian pabrik sesuai dengan standar lingkungan hidup.

Selama ini pihaknya di Ritok juga tidak pernah dilibatkan dalam pembahasan Amdal berdirinya pabrik, sementara saat alami kebocoran justeru menuai masalah karena aliran limbah hingga ke Sungai Ritok.

“Akibatnya menimbulkan matinya aneka jenis ikan di sungai, di antaranya ikan arwana merah dan arwana silver.  Pada hal jenis ikan ini dilindungi” tambahnya.

Pada saat yang sama, Hendrikus Adam, aktivis Walhi Kalimantan Barat yang turut memantau di lapangan saat melakukan safari Paskah di lokasi mengingatkan bahwa dugaan pemcemaran yang menyebabkan matinya sejumlah ikan tidak dapat dianggap remeh.

Selain berbahaya bagi lingkungan hidup khususnya biota sungai dan aneka jenis ikan, dugaan pencemaran yang terjadi pada Sungai Sepatah hingga Sungai Retok di hilirnya juga berbahaya bagi kesehatan warga.

Terlebih selama ini warga sekitar gunakan untuk mandi, cuci dan bahkan untuk konsumsi.

“Ikan saja mabuk hingga banyak mati mengapung. Sepanjang menyusuri sungai bau anyir menyesakkan hidung. Tentu ini juga akan sangat berbahaya bagi kesehatan dan mengancam punahnya pengetahuan lokal terhadap aneka nama jenis ikan bagi komunitas sekitar” terangnya.

Karenanya Adam meminta agar pihak terkait sesuai kewenangannya di dua kabupaten (Landak dan Kubu Raya) juga provinsi melalui Dinas LHK Kalbar segera bertindak memastikan pemenuhan hak-hal warga dan melakukan tindakan tegas atas dugaan pelanggaran yang terjadi.

(*)

[Update Informasi Seputar Kabupaten Kubu Raya]

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved