Petani di Kapuas Hulu Keluhkan Ribuan Hektare Tanaman Kratom Diserang Hama

"Karena dulu harganya menarik, maka semakin banyak orang membuka lahan untuk ditanam kratom, sedangkan pertumbuhan permintaan pasar luar negeri tidak

Penulis: Anggita Putri | Editor: Rivaldi Ade Musliadi
TRIBUNPONTIANAK/ISTIMEWA/Dok. Andhio
Ribuan hektare tanaman kratom milik petani di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat dalam dua bulan terakhir diserang hama atau ulat sehingga mengalami gagal panen. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Ribuan hektare tanaman kratom milik petani di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat dalam dua bulan terakhir diserang hama atau ulat sehingga mengalami gagal panen.

Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalbar, Rudyzar Zaidar Mochtar mengatakan masalah kratom di perhuluan sudah terjadi sejak akhir tahun lalu.

Dimana sentra-sentara penghasil kratom diterjang bencana banjir besar yang mengakibatkan gagal panen, dan kerugian petani tersebut belanjut di awal tahun ini.

"Kali ini lantaran diserang hama ulat. Sementara bagi eksportir, langkanya kontainer membuat mereka terpaksa mengirim melalui parcel atau pos, sehingga biaya yang dikeluarkan sangat tinggi," kata Rudyzar, Minggu 20 Maret 2022.

Ia menambahkan anjloknya harga kratom juga disebabkan oleh persaingan tidak sehat diantara pemain kratom, sehingga harga kratom terus merosot dari bulan ke bulan sejak dua tahun ini.

"Karena dulu harganya menarik, maka semakin banyak orang membuka lahan untuk ditanam kratom, sedangkan pertumbuhan permintaan pasar luar negeri tidak berimbang dengan pasokan yang jauh melebihi permintaan. Sehingga mendorong perang harga di tingkat hulu hingga eksportir," ungkapnya.

Kadin Kalbar juga mendorong pemerintah untuk mengintervensi dan memberlakukan aturan terkait produksi kratom ekspor.

Bahkan harga di Amerika Serikat pernah menyentuh 3 dolar AS per kilogram, dimana dulu satu kilogramnya bisa mencapai 40 dolar AS per kilogram.

Minyak Goreng di Kapuas Hulu Masih Langka dan Mahal

Dirinya berharap ada aturan yang mengatur hal ini, untuk melindungi petani dan pelaku usaha lokal di bidang kratom ini.

“Harus ada syarat minimum bagi eksportir yang bisa melakukan ekspor, supaya tertib dan teratur," sebutnya.

Dia bahkan mendorong pemerintah daerah untuk memberlakukan pajak untuk industri kratom, sebagaimana ekspor komoditas lain.

"Dengan adanya pajak daerah ini, maka akan meningkatkan PAD (pendapatan asli daerah) dan dampaknya bagi para petani dan eksportir bisa meminta bantuan dari pemerintah bila terkena musibah hama seperti ini. Itu karena industri kratom ada kontribusi untuk daerah dan negara," katanya.

Dia menambahkan, agar harga beli kratom pada petani tidak terjun bebas, maka harus ada andil dari pemerintah. Salah satunya perlu adanya verifikasi eksportir agar produk yang dihasilkan higenis dan petani menjadi sejahtera.

"Karena dalam hal ini banyak 'mafia' yang bermain dalam menjatuhkan harga sehingga dia untung, dan dampaknya petani yang dirugikan," ungkapnya.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved