Kisah Perjalan Penulis Tere Liye Akui Karyanya Sempat Tak Laku Hingga Jadi Buku Best Seller Saat Ini

Bahkan penjaga Gramedia saat itu tidak mengetahui apa isi dari buku hafalan salat Delisa, yang mengira novel tersebut adalah buku agama.

Penulis: Anggita Putri | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/Dok Tribun Pontianak
Bersama Gramedia Pontianak, Tere Liye menyapa penggemarnya yang ada di Pontianak secara langsung di Gramedia Ayani Mega Mall Pontianak, dan disiarkan langsung melalui akun Sosmed Tribun Pontianak, Jumat 18 Maret 2022. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Nama penulis novel Tere Liye tentu sudah tidak asing lagi dikalangan masyarakat yang suka membaca buku Novel.

Bersama Gramedia Pontianak, Tere Liye menyapa penggemarnya yang ada di Pontianak secara langsung di Gramedia Ayani Mega Mall Pontianak, dan disiarkan langsung melalui akun Sosmed Tribun Pontianak, Jumat 18 Maret 2022.

Tere Liye sendiri sudah mulai merilis novel pertamanya pada 2005- 2006. Alasannya kenapa memilih menulis novel sebab ia belum pernah menemukan jawaban yang ia cari ketika menulis di kolom-kolom opini seperti di Kompas.

Walaupun diakunya keren karena namanya terpampang di koran Kompas saat itu, namun ia tak menemukan apapun disitu.

Tere Liye Ajak Pemerintah Berperan dalam Literasi Saat Ini

“Bisa saja menulis itu adalah jalan untuk menginspirasi orang lain,”ucapnya.

Ia mengatakan awal merilis novel di tahun 2005, 2006 karyanya tersebut tidak laku sampai pada novel ketiga karyanya saat itu.

“Buku pertama saya mungkin kalian belum pernah dengar judulnya The Gogons Series, lalu Antara Jakarta dan Kuala Lumpur dan juga Mimpi-mimpi si patah hati jug tidak lalu,” ujarnya.

Lalu novel keempat yang berjudul Hafalan Salat Delisa juga awalnya sempat tidak laku. Dikatakannya kalau hari ini siapapun yang datang ke Gramedia pasti melihat banyak sekali rak-rak buku hasil karya dirinya bahkan di rak Best Seller.

“Kalau lihat dulu awal buku Novel Hafalan Salat Delisa. Kalian tahu dimana letaknya bukan di rak best seller, new arrival, atau pun rak lainnya juga tidak ada. Tapi diletak di Rak A9 di ujung yang berbaris dengan buku tuntunan Salat,”ujarnya.

Bahkan penjaga Gramedia saat itu tidak mengetahui apa isi dari buku hafalan salat Delisa, yang mengira novel tersebut adalah buku agama.

Berikutnya ia merilis novel Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, Kau dan Sepucuk Angpao Merah, Bidadari-bidadari Surga, Rembulan diwajahmu, dan seterusnya. Diakuinya tidak secara otomatis buku itu langsung laku dipasaran.

“Baru mulai terlihat serius di 2010 dan 2011. Saya terus produktif sampai hari ini dan mungkin kalian sudah membaca beberapa buku yang sudah saya sebutkan tadi,”ujarnya.

Ia bahkan memberanikan diri untuk banting stir di 2012 menulis genre yang langka yakni ekonomi dan politik. Lalu 2014 banting stir menulis fantasi remaja, dan seterusnya.

Diakuinya seorang Penulis Tere Liye sangat suka jalan-jalan untuk mencari inspirari bahkan diawal dulu setelah selesai kuliah ia memutuskan untuk mengelilingi Kalimantan.

“Dengan kalian melihat begitu luasnya dunia ini. Begitu banyaknya orang dan beragamnya tempat maka kepala kalian akan penuh sekali. Jadi perjalanan itu bukan hanya sekadar mengumpulkan foto,”tegasnya.

Ia bahkan sangat menyukai mendaki gunung, bahkan sudah mendaki gunung tertinggi di Indonesia. Namun tak ada dokumentasi fotonya sama sekali. Karena yang penting baginya ingatan itu melekat dikepalanya dan menjadi insiprasi untuk dirinya menulis. (*)

(Simak berita terbaru dari Pontianak)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved