Kenali Gejala Baru Omicron yang Wajib Diketahui hingga Prediksi Lonjakan Kasus Varian Baru Covid-19

Gejala baru dan aneh Varian Omicron dibandingkan dengan varian-varian sebelumnya adalah terjadinya keringat saat malam hari hingga kabut otak.

Penulis: Rizky Zulham | Editor: Rizky Zulham
FRANK HOERMANN / SVEN SIMON / SVEN SIMON / DPA PICTURE-ALLIANCE VIA AFP
Ilustrasi. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Gejala baru dan aneh Varian Omicron dibandingkan dengan varian-varian sebelumnya adalah terjadinya keringat saat malam hari hingga kabut otak.

Pemerintah memprediksikan puncak kasus Omicron di Indonesia akan terjadi pada pertengahan Februari hingga awal Maret 2022.

Kenali lagi gejala varian sangat menular ini.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, berdasarkan pengamatan terhadap sejumlah negara, puncak kasus varian Omicron tercapai secara cepat dan tinggi, waktunya berkisar antara 35-65 hari.

Omicron Melanda! Daftar Buah-buahan Terbaik Tingkatkan Daya Tahan Tubuh, Terlebih saat Musim Hujan

“Indonesia pertama kali teridentifikasi (varian Omicron) adalah pertengahan Desember, tapi kasus mulai naik di awal Januari," kata Budi, dikutip dari laman setkab.go.id, Senin 17 Januari 2022.

"Nah, antara 35-65 hari akan terjadi kenaikan yang cukup cepat dan tinggi. Itu yang memang harus dipersiapkan oleh masyarakat,” ujar menteri kesehatan.

Gejala varian Omicron

Ketika infeksi Covid-19 terus meningkat di tahun baru, di tengah penyebaran cepat bak kilat varian Omicron, beberapa pasien melaporkan gejala baru yang aneh: keringat malam.

Umumnya terkait dengan kondisi lain, seperti flu, kecemasan, atau bahkan kanker, keringat malam lebih jarang dikaitkan dengan Covid-19 sebelum varian Omicron mulai menyebar dengan cepat ke seluruh dunia.

Keringat malam adalah episode berulang dari keringat ekstrem yang bisa "merendam" pakaian dan seprai Anda, menurut Mayo Clinic, seperti dikutip Fortune.

Keringat malam adalah salah satu dari beberapa gejala berbeda yang muncul untuk membedakan Omicron dari varian virus corona lainnya, bersama dengan sakit tenggorokan.

Fortune melaporkan, Dr John Torres, koresponden medis senior NBC News, mengatakan pada acara Today, keringat malam adalah "gejala yang sangat aneh".

Aturan Baru Kini PPKM Dievaluasi Seminggu Sekali untuk Antisipasi Perkembangan Omicron

Itu sebabnya, Dr. Amir Khan dari Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) meminta masyarakat untuk waspada terhadap keringat malam sebagai tanda untuk menjalani tes Covid-19.

Dalam beberapa minggu terakhir, banyak orang melaporkan tentang keringat malam akibat Covid-19 di media sosial.

Beberapa pengguna Twitter mengatakan, gejala baru hanya menambah kebingungan dan kecemasan tentang apakah seseorang terpapar Covid-19 atau tidak.

Sebelumnya, Dr Angelique Coetzee, dokter Afrika Selatan yang pertama kali memberi tahu pihak berwenang tentang Omicron, mengungkapkan, keringat malam adalah gejala umum varian itu, selain nyeri otot, kelelahan, dan tenggorokan gatal.

Sementara mengutip The Daily Express, pasien Covid-19 yang terpapar varian Omicron melaporkan kabut otak sebagai salah satu gejala baru di aplikasi ZOE COVID Study, yang mencatat dan menganalisis gejala virus corona.

"Salah satu gejala Omicron yang lebih tidak biasa tetapi sangat umum adalah kabut otak," sebut The Daily Express.

Kabut otak menjadi gejala Covid-19 yang agak langka. Laporan gejala ini sebelumnya muncul pada Oktober 2020.

Tapi, tidak sering dilaporkan sebagai salah satu gejala umum, seperti demam, batuk, dan nyeri tubuh.

Dr. Shruti Agnihotri, ahli saraf di University of Alabama Birmingham, Inggris, mengatakan kepada ABC 33/40, kabut otak sering dikaitkan dengan sakit kepala parah dan kehilangan ingatan.

“Seringkali pasien ini bahkan telah pulih dari gejala demam dan sesak napas awal dan mereka terus mengalami sakit kepala yang sangat parah dan cenderung sering mengeluh tentang kehilangan ingatan, sering disebut sebagai kabut otak,” katanya.

“Pasien sering kali menggambarkan kesulitan dengan perhatian, fokus, hanya tidak merasa benar, tidak setajam sebelumnya. Kami terkadang melihat gejala ini dalam banyak kondisi lain, selama pasca-gegar otak,” sebut Agnihotri.

Sudah 572 Kasus Omicron di Indonesia, Berikut 3 Gejala yang Paling Banyak Dikeluhkan

Berikut gejala varian Omicron yang dilaporkan aplikasi ZOE COVID Study dan laporan lainnya:

- sakit kepala
- pilek
- kelelahan (baik ringan atau berat)
- bersin
- sakit tenggorokan
- demam
- kehilangan bau
- batuk terus-menerus
- kehilangan nafsu makan
- kabut otak
- keringat malam

Pejabat tinggi WHO di Eropa Hans Kluge mengatakan, 89% dari mereka yang terinfeksi Omicron yang dikonfirmasi di Eropa melaporkan gejala yang sama dengan varian virus corona lainnya, termasuk batuk, sakit tenggorokan, demam.

(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved