Breaking News

BBM Solar Mahal dan Langka, Nelayan di Kabupaten Kubu Raya Tak Melaut

Bujang nelayan lainnya mengatakan bahwa solar BBM utama yang digunakan untuk melaut saat ini tidak hanya mahal namun langka

Penulis: Ferryanto | Editor: Try Juliansyah
TRIBUNPONTIANAK/DESTRIADI YUNAS JUMASANI
Sejumlah nelayan terpaksa tidak melaut dan hanya menyandarkan kapal di Pelabuhan Nelayan Tradisional Sungai Kakap, di Desa Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan, Selasa 4 Januari 2022. Nelayan terpaksa tidak melaut karena harga BBM Solar di tingkat pengecer terlampau tinggi dan sulit untuk didapatkan. 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KUBURAYA - Sejumlah Nelayan di Kecamatan Sungai Kakap , kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak jenis solar, Selasa 4 Januari 2022.

Akibatnya sebagian nelayan tidak melaut dan memilih menyandarkan kapal - kapalnya di pelabuhan Muara Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya.

Adapun nelayan yang memilih melaut mendapatkan solar dengan harga diatas standar daripada harga yang ada di SPBU yakni 5.500 rupiah, nelayan membeli Solar eceran diharga 7.500 hingga 8.000 rupiah, bahkan dengan tersebut nelayan khususnya dengan kapal - kapal kecil masih sulit untuk mendapatkan solar.

"ini sulit karena pasokan tidak ada, jadi nunggu minyak datang sambil betulkan jaring,'' ujar Sahat satu diantara Nelayan.

BERITA FOTO - Akibat Harga BBM Jenis Solar Tinggi, Nelayan di Sungai Kakap Terpaksa Tak Melaut

Kemudian, Bujang nelayan lainnya mengatakan bahwa solar BBM utama yang digunakan untuk melaut saat ini tidak hanya mahal namun langka, akibatnya mereka sudah beberapa waktu terakhir tidak melaut.

"kalau harga normal itukan 5.500, tapi tidak ada, jadi minyak itu mahal 7.500 sampai 8.500 , itu dipengecer, itupun kalau ada ini susah carinya,'' katanya.

kemudian, Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Provinsi Kalimantan Barat, Sigid Sugiardi menyampaikan bahwa kelangkaan BBM bagi para nelayan bukanlah hal baru dan bukan hanya terjadi Kabupaten Kubu Raya.

Ia mengungkapkan, hingga saat ini pihaknya dari Nelayan tidak mengetahui pasti berapa jumlah kuota BBM bersubsidi bagi nelayan yang ada di Kalimantan Barat, karena hingga saat ini sebagian besar anggotanya membeli BBM Solar tidak dengan harga normal.

''Kuota kita tidak pernah tau, kemudian, bilapun ada, ini kemana saja, kamipun tidak tahu distribusinya kemana saja, kenapa sampai ada jarak nelayan dengan harga subsidi," keluhnya.

"Kalau tidak salah dilapangan itu bahkan sampai 9 ribu sampai 11 ribu, dan mereka terpaksa beli, karena bila tidak beli maka tidak bisa melaut,'' lanjutnya. 

Ia berharap. kepada pihak - pihak terkait dapat berperan bagi lancarnya suplai BBM kepada para nelayan kecil di Kalbar.

"Intinya bahwa nelayan secara umum,bila tidak ada sibsidi yang paling penting kuota nya ada, dan bila mana ini bocor, bocornya kemana," ujarnya.

"Jika bicara pertamina lepas tangan dan sebagainya harusnya pertamina bisa berkolaborasi dengan Pemda, Pengawas dan sebagainya, yang terpenting nelayan itu dapat,'' tuturnya.

Di Kalbar ia mengungkapkan bahwa jumlah nelayan sangat banyak dan tersebar di jalur yang luas tidak tercentral, oleh sebab itu ia berharap distibusi BBM kepada para nelayan di Kalbar dapat ada dan merata.

Jumlah Nelayan dengan Kapal besar dikatakannya di Kalbar diangka 6 ribu sampai 8 ribu, namun bila ditambah dengan nelayan kecil dapat berjumlah hingga 12 ribu nelayan. (*)

(Simak berita terbaru dari Kubu Raya)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved