Breaking News:

Bangun Tanggul Sementara Upaya Tanggap Darurat Banjir Sintang | Sampurno: Kita Punya Waktu Terbatas

Tanggul untuk menahan limpasan air sungai ini sifatnya sementara untuk menghadapi dan antisipasi terjadinya La Nina yang lebih tinggi dari sebelumnya

Penulis: Agus Pujianto | Editor: Hamdan Darsani
TRIBUNPONTIANAK/Prokopim Setda Sintang
Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Alam Balai Wilayah Sungai Kalimantan I, Sampurno 

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID,SINTANG - Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Alam Balai Wilayah Sungai Kalimantan I, Sampurno menegaskan pemasangan tanggul di bantaran sungai melawi dan Kapuas dengan Geotube dan Geobag  sebagai langkah jangka pendek dalam kondisi tanggap darurat.

Tanggul untuk menahan limpasan air sungai ini sifatnya sementara untuk menghadapi dan antisipasi terjadinya La Nina yang lebih tinggi dari sebelumnya yang diprediksi BMKG terjadi pada Desember 2021 sampai Februari 2022 itu.

“Untuk penanganan tanggap darurat sifatnya sementara. Konstruksi yang akan dilaksanakan ini pun sudah kami rapatkan dengan Jakarta, jadi menggunakan geotube dan geomembran. Ini dibuat untuk tanggul. Ini tanggap darurat, kita punya waktu terbatas, tidak bisa berlama-lama. Kita harus segera mengeksekusi,” kata Sampurno Kamis kemarin.

Sekda Sintang Harap Pembangunan Tanggul Intens Disosialisasikan ke Masyarakat 

Sampurno mengatakan, secara mofrologi maupun topografi Kalbar sangat unik, yang mana Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai hanya satu, tapi panjangnya mencapai panjangnya mencapai 1.143 kilometer.

“Namun dari Kapuas hulu sampai Pontianak, ini dia punya perbedaan tinggi kurang lebih 40 meter, artinya flat. Jadi pasang surut air laut ini ratusan kilo, mungkin termasuk sintang ada pengaruh pasang surut dari air laut,” jelasnya.  

Menurut Sampurno, penyelesaian banjir dalam situasi tanggap darurat tidak bisa bisa parsial, harus menyeluruh. Namun karena keterbatasan waktu, ditambah banjir belum benar-benar surut, maka pembanguanan tanggul hanya bersifat sementara.

“Selain tanggul, kedepan kita mereduksi dengan embung retensi atau kolam. Di sini ada 4 rencana. Kita angkat sedimennya agar banjir yang dari atas bisa parker dulu ke embung retensi, begitu surut, air dari embung keluar masuk ke sungai Kapuas. Ada 4 (embung)  yang langsung terhubung dengan sungai Kapuas, ini salah satu konstruksinya," ujarnya.

"Pertama tanggul, kedua kolam retensi ketiga embung dan bendungan. Tapi embung kita belum tahu ada tidak potensinya dan bendungan kita belum tahu juga. Yang dua ini lah yang mau kita kerjakan sementara. Dan kenapa ini harus segera, bahwa diperkirakan Januari-Februari terjadi La Nina,” beber Sampurno.

Rencana pemasangan Geotube- geobag ini tidak sekaligus tetapi ada tahapan-tahapan yang harus dilalui. Melalui sosialisasi, merupakan bagian dari tahapan itu dalam rangka menggali masukan dari berbagai stakeholder, tentang hasil kajian tim tanggap darurat. 

TAK MAU Tangani 2 Bencana Sekaligus, Saragih Minta PUPR Kaji Bangun Tanggul Cegah Banjir di Sintang

“Pemasangan geobag ini merupakan kebijakan pemerintah yang sangat luar biasa di Kabupaten Sintang. Yang terdampak banjir besar kemarin ada di 5 kabupaten tetapi pemasangan geobag ini hanya di Kabupaten Sintang. Ini satu bentuk perhatian pemerintah supaya tidak terulang banjir besar lagi. Ini sifatnya sementara dan tanggap darurat," ujarnya.

"Yang namanya darurat ya sementara. Setelah pemasangan geobag selesai, ke depan akan ada kajian kembali. Ini belum sempurna dan masih sementara,” katanya.

"Tahapan berikutnya adalah pekerjaan rekonstruksi yang studinya lebih detail. Soal pompa dan ganti rugi bangunan, kalau memang pemerintah daerah memiliki keterbatasan dana, harus koordinasi dengan pemerintah pusat. Yang menentukan pusat, kami hanya menyampaikan saja,” ujar Sampurno. (*)

[Update informasi Seputar Kabupaten Sintang]

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved